Ambisi Wijaya
Cerita ini bermula dari permulaan abad ke 13, dimana kerajaan Kediri berdiri megah dan perkasa.
Pada suatu malam, dimana para nelayan sedang berlabuh untuk mencari ikan di laut Jawa. Malam gelap gulita, dan tepat pada saat itu terjadi gerhana bulan.
“Wah, bulan menghilang,” kata seorang nelayan sambil mendayung perahunya.
“Sepertinya akan terjadi hal yang buruk, menimpa negeri Jawa,” kata nelayan yang lain.
“Ah.. Itu hanyalah takhyul, jangan percaya yang tidak tidak”
Karena malam itu sangat gelap gulita, maka para nelayan itu menghentikan perahu mereka sesaat agar tidak tersesat di lautan luas. Kemudian terdengarlah suara orang berbicara dan ombak air bergelombang besar.
“Suara apa itu?” tanya seorang nelayan.
Namun karena mereka tidak dapat melihat apa apa, maka mereka pun hanya terdiam saja. Dan kemudian beberapa saat kemudian, gerhana bulan pun selesai. Cahaya bulan kembali bersinar terang. Para nelayan itu kemudian melihat ke arah dimana suara aneh itu datang, dan saat mereka berpaling, terlihatlah sebuah logam baja raksasa bergambar wajah yang menyeramkan.
“Ah Naga raksasa! Ayoo kabur,” teriak salah seorang nelayan.
Namun yang mereka lihat bukanlah seekor naga, namun sebuah kapal raksasa yang berlabuh tepat di depan mereka. Kapal itu berbekal sebuah logam raksasa bertulisan huruf aneh yang menyerupai huruf sansekerta.
“Brak!”
Kapal raksasa itu menabrak perahu nelayan dan para nelayan pun hanyut terseret ombak raksasa yang berasal dari kapal raksasa itu. Salah seorang nelayan sebelum tenggelam ke dalam laut, ia pun merasa kaget dan tidak percaya apa yang baru saja ia lihat. Di belakang kapal raksasa tersebut, ada ribuan kapal raksasa lainnya mengikuti dari belakang. Di setiap tepi kapal ada tiang bendera besar yang melambai-lambai. Bendera itu berwarna kuning emas dan bergambarkan naga yang sedang bersiap perang.
Nelayan itu berteriak,
“Tolong!”
dan dari jauh terlihatlah ada seorang pria berdiri di tepi kapal. Pria itu memakai baju perang aneh yang terbuat dari baja. Kepala pria itu botak dan ada rambut panjang terkepang lurus kebawah di atas kedua telinga mereka. Pria itu mengambil suatu benda dimana nelayan tersebut tidak dapat melihatnya, karena sinar bulan yang terang sedikit terhalang kapal. Tiba-tiba sebuah anak panah besar melayang dan tertancap tepat di leher nelayan tersebut. Nelayan itu pun mati dan tenggelam di laut Jawa. Ternyata kapal-kapal raksasa itu adalah kapal milik kerajaan Monggolia dari daratan utara.
Seorang pria yang baru saja memanah nelayan itu ternyata adalah seorang tentara perang. Ia pun pergi ke dalam kapal dan melaporkan yang baru saja ia lakukan kepada atasannya.
“Apakah ada yang berhasil lolos,” tanya atasannya.
“Tidak Jendral Subodai”. Setelah itu ia pun pamit dan kembali ke posnya.
“Ha.. ha.., akhirnya kita bisa menghancurkan kerajaan Kertanegara,” jawab seorang panglima yang berdiri disamping sang Jendral.
Lalu jendral Subodai pun berkata,
“Jangan terlalu buru-buru panglima Meng Chi, Aku tidak mau perang ini gagal karena dendammu dengan raja Kertanegara”.
Setelah mendengar itu lalu panglima Meng Chi pun geram dan berkata,
“Kau tidak pernah merasakan malunya wajah seseorang di lukai dengan pedang”.
Jendral itu hanya terdiam, lalu bangun dari tempat duduknya dan berjalan untuk istirahat ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, ribuan kapal raksasa tentara Mongol telah memasuki Pantai Utara Jawa.
Akhirnya pagi pun tiba, kapal Mongol pun merapat ke pantai Jawa. Sekitar 13000 Tentara berkuda dipimpin oleh Jendral Subodai, dan panglima Meng Chi keluar dari kapal dan berjalan menuju Kerajaan Kertanegara. Tentara Mongol itu berjalan dari pagi hingga siang hari dan tidak menemukan petani maupun warga sekitar.
“Bah, dimana orang-orang? Apakah mereka semua mengumpat di bawah tanah” kata Meng Chi.
“Mungkin mereka sudah tahu kalau kita akan datang, dan mereka pun telah bersiap siaga” kata Jendral Subodai.
Beberapa saat kemudian, terlihatlah istana Kertanegara.
“Serang!” teriak Meng Chi dan ribuan tentara berkuda menyerang ke dalam istana dengan membabi buta.
“Jangan bodoh, mungkin didalam ada jebakan” teriak Subodai, namun segalanya sudah terlambat, dan sebagian besar tentara sudah masuk ke dalam istana. Subodai pun segera mengejar Meng Chi dan akhirnya terlihat lah Meng Chi di depan barisan tentara.
“Apa yang kau lakukan..” teriak Subodai.
Meng Chi tidak menjawab. Ia hanya melihat kedepan. Subodai pun mencoba melihat kedepan dan terlihatlah pintu gerbang istana yang telah hangus terbakar. Rumah-rumah penduduk telah hancur. Akhirnya mereka pun menjelajah istana itu dan menemukan banyak mayat tentara. Akhirnya mereka pun menemukan makam raja Kerajaan Kertanegara.
“Puih,” Meng Chi meludah kemakam itu lalu berjalan keluar dari istana.
Subodai pun akhirnya kembali ke Kapalnya. Pada malam harinya Meng Chi pun kembali ke kapal dengan membawa banyak tahanan. Para tahanan adalah rakyat desa sekitar yang memutuskan untuk tinggal didaerah itu. Setelah ditanya, para rakyat-pun menjawab bahwa Kerajaan kertanegara telah dihancurkan oleh Kerajaan Kediri. Meng Chi menjadi marah dan kecewa karena ia ingin sekali membunuh raja Kertanegara dengan tangannya sendiri. Karena emosinya maka ia pun mengeluarkan pedang dan membelah meja makan. Melihat itu maka Jendral Subodai mengeluarkan pedangnya dan menyerang Meng Chi, namun tidak membunuhnya.
“Aku sudah cukup muak melihat tindakanmu yang sembrono. Pagi ini kita bisa saja masuk jebakan musuh karena emosimu. Akulah pemimpin disini bukan kamu”.
Setelah itu Subodai memerintahkan untuk menghukum para tentara berkuda yang mematuhi Meng Chi untuk menyerang ke dalam istana Kertanegara. Meng Chi pun marah dan tidak dapat berbuat apa-apa. Ia pun pergi ke dalam kamarnya dan membawa seorang wanita desa ke dalam.
Wanita itu berlari dan berteriak didalam kamar. Meng Chi mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Wanita itu lalu dilempar ke ranjang dan Meng Chi pun mencampakan dirinya tepat ke atas wanita itu. Baju wanita itu disobek-sobek dan terlihatlah kedua payudara yang besar. Meng Chi lalu meraba-raba kedua payudara itu dengan ganas. Bibir Meng Chi langsung mencium bibir wanita itu, sehingga ia tidak dapat berteriak lagi.
Lidah Meng Chi langsung menerobos ke dalam mulut wanita itu dan mereka pun berciuman selama 15 menit. Wanit itu pun lemas dan tidak dapat berontak lagi. Meng Chi pun bangkit dari wanita itu dan menelanjangkan dirinya. Lalu ia pun merobek pakaian wanita itu bagian bawah. Wanita itu pun kembali meronta-ronta. Meng Chi lalu merangkul punggung wanita itu dan mendorongnya ke dada ia sendiri. Sekarang tubuh mereka berdua telah saling menempel.
“Ha ha ha, wanita Jawa memang enak untuk dirasa”.
Warna tubuh wanita yang hitam kecoklatan itu membangkit nafsu seks Meng Chi. Kedua paha wanita itu dipaksa buka dan diapitkan ke pinggulnya Meng Chi. Kedua tangan Meng Chi meraba-raba punggung wanita itu dengan ganas. Beberapa saat kemudian berhasil lepas dari kedua tangan itu dan menjatuhkan dirinya ke ranjang. Ia berusaha merangkak kabur namun Meng Chi malah senang dan bergairah melihat pantat wanita itu yang elastis dan kecoklatan. Meng Chi lalu memegang pantat wanita itu dan mencium serta menjilati seluruh pantat itu.
“Ah.. Ah..” desah wanita itu.
Meng Chi lalu menjilati lubang pantat itu. Lidahnya masuk sampai ke dalam lubang pantat. Wanita itu tidak dapat berbuat apa-apa. Lalu Meng Chi berpindah tempat dan menjilati lubang vagina.
“Ah..”
Wanita itu berbaring diranjang dan kedua tangannya mencoba mendorong kepala Meng Chi. Beberapa saat kemudian kepala Meng Chi pun terdorong keluar, namun Meng Chi langsung berdiri dan berjongkok di depan wanita itu dan memasukan penisnya ke dalam mulut wanita. Wanita itu berteriak dan berusaha menghindar, namun ia tidak dapat berontak. Penis Meng Chi telah masuk ke dalam mulut wanita itu. Tangan kiri Meng Chi memencet kepala wanita itu dan mendorongnya ke arah penis. Tangan kanannya memegang dagu wanita itu dan mengoyangkannya. Lidah wanita itu otomatis ikut goyang dan menjilati penisnya dari dalam mulut.
Meng Chi pun merasa nafsunya makin besar. Ia pun mengeluarkan penisnya dan menusukannya ke vagina wanita itu. Wanita itu meronta kesakitan, karena vaginanya kecil, dan penis panglima Mongol itu besar. Meng Chi tidak memperhatikan wanita itu. Ia hanya mendorong penisnya keluar masuk di vagina itu. Beberapa saat kemudian wanita itu kejang-kejang. Meng Chi mengerti bahwa cairan wanita itu telah keluar dan wanita itu telah mencapai tahap orgasme. Namun Meng Chi masih belum puas. Ia tidak ingin wanita itu pingsan, maka ia berganti tempat. Ia memasukan penisnya ke dalam pantat wanita itu. Wanita itu meronta kesakitan dan akhirnya ia hanya bisa menangis. Beberapa saat kemudian Meng Chi mencapai tahap orgasme. Spermanya muncrat didalam pantat wanita itu.
“Ah… Ha ha..” tertawa Meng Chi.
Lalu ia pun tidur lemas dan memeluk wanita itu dari belakang. Pada pagi harinya wanita itu di tahan didalam kamar. Meng Chi mengancam akan membunuh seluruh keluarga wanita itu, apabila wanita itu kabur.
Meng Chi pun keluar dari kapal dan menemui Subodai. Jendral Subodai berkata bahwa ia akan menarik seluruh pasukannya dan kembali ke negeri Monggolia. Meng Chi pun menyetujuinya karena ia telah mendapat apa yang ia inginkan. Tiba-tiba seorang tentara masuk ke kamar itu dan melapor kepada Subodai bahwa ada seorang bernama Wijaya membawa ratusan tentara dan ingin bernegoisasi. Subodai pun mempersilahkan Wijaya untuk masuk dan bernegoisasi.
Wijaya menceritakan asal usulnya dan akhirnya ia membentuk perjanjian kepada Subodai bahwa, apabila Subodai membantu Wijaya untuk menghancurkan kerajaan Kediri, maka Subodai akan diberi setengah wilayah dari tanah Jawa. Meng Chi langsung tersenyum dan ingin menyetujuinya, namun ia tidak dapat berkata apa-apa, karena takut akan jendral Subodai. Subodai hanya terdiam, lalu berkata bahwa ia akan memikirkan hal tersebut. Maka Wijaya dan Meng Chi pun meninggalkan ruangan itu untuk sesaat.
Pada waktu Subodai masih memikirkan hal tersebut, ada seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan itu dengan membawakan minuman teh.
“Silahkan dicicipi Jendral,” jawab wanita cantik itu.
Wanita itu berpakaian sangat seksi, paha wanita itu terlihat sedikit saat berjalan, dan dada wanita itu terlihat menonjol tertutup pakaian itu. Warna kulit wanita itu putih kecoklatan.
“Siapakah engkau?” tanya Subodai.
“Dinda adalah putri dari panglima Wijaya. Biasanya Dinda dipanggil Ayu”.
Lalu ia pun mempersilahkan Subodai untuk minum, namun ia malah terjatuh. Subodai langsung memegangnya agar tidak jatuh, namun Ayu telah terjatuh dan tepat terpeluk oleh Subodai. Bibir Ayu secara tidak sengaja menempel di bibir Subodai. Lalu mereka berdua pun berciuman sambil berpelukan. Tangan Subodai merangkul Ayu dan tangan yang satunya lagi telah menempel di pantatnya Ayu. Paha Ayu pun dengan otomatis menempel dan mengunci kaki Subodai. Tiba-tiba terdengar suara Wijaya dari luar ruangan itu,
“Ayu, jangan menganggu Subodai lama-lama”.
Lalu Ayu pun bangun dari pelukan dan keluar dari ruangan itu. Dari belakang terlihat pantat Ayu yang molek dan padat. Subodai pun bangkit dan terbengong-bengong akan kecantikan Ayu.
Setelah Ayu meninggalkan ruangan itu, Subodai pun berjalan kembali ke kamarnya. Pada saat ia kembali kekamar, ia hanya duduk dikursinya dan terus membayangi kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Ayu. Tanpa disadari seorang tentara mengetuk pintu kamar sang Jendral dan berkata bahwa makan malam telah tiba.
Jendral Subodai baru sadar bahwa ia benggong di kamar sendirian selama dua jam. Maka ia-pun bangkit dari kursinya dan mengikuti makan malam bersama para tentaranya. Pada saat ia makan malam, Subodai terlihat agak kurang nafsu makan dan hanya duduk terbenggong. Meng Chi melihat wajah Subodai dari samping dan tersenyum.
“Jendral, makanan yang terlampau dingin, tidak enak untuk dicicipi” kata Meng Chi.
Subodai terkejut dan baru sadar kalau ribuan tentara sedang memandangnya. Salah satu perwira Subodai yang setia bernama Baatur berkata kepada Jendral Subodai,
“Jendral, ada apa gerangan? Mengapa Jendral terlihat aneh malam ini? Apakah ada masalah besar?”
Subodai bertambah malu dan tidak bisa mengutarakannya, lalu ia tiba-tiba berkata,
“Benar katamu, Aku sedang binggung dalam suatu masalah. Oleh sebab itu, Setelah makan malam, aku akan mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah ini.”
Para tentara itu pun akhirnya melanjutkan makan malam mereka. Meng Chi tersenyum dan berpikir,
“Kau memang bisa menutup rahasia ini dari prang-orang bodoh. Tapi aku bukanlah orang bodoh yang kau kira. Ikan yang busuk, sebagaimana ditutupi, baunya pasti akan tercium juga”.
Setelah makan malam, semua tentara menghadiri pertemuan. Subodai pun berkata,
“Kita ditugaskan oleh Ka-Khan (atau Kaisar Kubilai) untuk menghancurkan kerajaan Kertanegara, namun kerajaan lemah itu telah hancur sebelum kita tiba. Sekarang ada seorang panglima yang bernama Wijaya menawarkan kita untuk bekerja sama dalam menaklukan kerajaan raksasa Kediri dan puluhan kerajaan kecil lainnya. Apabila kita menang, kita akan dihadiahkan setengah dari tanah Jawa. Sekarang aku sedang binggung apakah kita lebih baik kembali ke Monggolia dan melapor semua hal ini kepada Ka-Khan atau kita membantu panglima Wijaya untuk menguasai tanah Nusantara.”
Lalu serentak para tentara itu berteriak,
“Kuasai Nusantara! Kami sudah bosan makan dan tidur. Sudah puluhan tahun kami tidak berperang, Ha ha..”
Mendengar hal itu Jendral Subodai berkata,
“Tapi bukankah itu berarti kita mengabaikan perintah Ka-Khan dan bertindak sendiri?”
Mendengar hal para tentara langsung terdiam. Meng Chi langsung berkata,
“Kalau kita menghancurkan negeri lain, bukankah Ka-Khan akan lebih senang. Tanah Nusantara dapat menjadi hadiah yang sangat istimewa untuk Ka-Khan”.
Para serdadu langsung berteriak setuju kepada ide panglima Meng Chi. Jendral Subodai tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menyetujui hal itu. Namun dalam hatinya ia-pun senang karena ia dapat bertemu dengan Ayu.
Setelah pertemuan selesai, semua tentara dibubarkan dan kembali ke pos masing-masing. Pada malam itu diperkemahan panglima Wijaya juga diadakan rapat militer. Terlihat seorang perwira gagah berbaju panjang terbuat dari sutra dan bergambarkan naga terbang yang mencari bola api. Perwira itu bermata tajam dan berwajah tampan. Namanya adalah Chen Mien. Ia adalah tangan kanan panglima Wijaya. Disamping panglima Wijaya ada seorang perwira brewok yang besar dan gagah perkasa. Tinggi perwira itu mencapai lebih dari dua meter. Tubuh perwira itu penuh dengan otot dan bulu didadanya. Nama perwira itu adalah Suwongso.
Dalam rapat itu ia tertawa terbahak-bahak,
“Bah, Negeri Nusantara memang ditakdirkan untuk kita kuasai. Setelah tentara Mongol dan Kediri hancur, kitalah yang akan tertawa pada akhirnya.”
Chen Mien pun berkata,
“Jangan senang dulu, Pasukan Monggolia bukanlah pasukan sembarangan”.
Suwongso menjadi marah dan berkata,
“Bah, hanya karena negeri Sung (nama kerajaan di China dulu) mu hancur, tidak berarti pasukan Monggol sangat hebat. Negeri mu terlalu lemah, makanya hancur berantakan”.
Chen Mien pun naik pitam dan berkata keras,
“Negeri Sung kalah karena kami membentuk persekutuan dengan Monggol, yang pada akhirnya setelah menghancurkan negeri Koryo (Korea), lalu mereka langsung mengkhianati perjanjian dan menyerang secara tiba-tiba”.
Panglima Wijaya lalu berkata,
“Jangan terlalu gegabah, perwira Chen”.
Chen Mien pun menjawab,
“Aku tidak ingin negeri Nusantara tertimpa bencana seperti negeri Sung.”
Panglima Wijaya pun merasa senang karena ada perwira yang sangat memperhatikan negeri Nusantara. Perwira Suwongso pun kembali berteriak,
“Orang Sung memang lemah, buktikan kalau kamu kuat”.
Chen Mien langsung mengeluarkan pedangnya. Ganggang pedang Chen terbuat dari batu giok berukiran naga. Begitu ditarik keluar dari bungkusan pedang, maka sinar pedangnya pun berkilau. Suwongso langsung melempar kursi duduknya ke Chen Mien. Perwira Chen langsung meloncati kursi itu.
Loncatan itu sangat tinggi dan pelan, bagaikan terbang melayang dilangit. Semua orang pun kaget melihatnya. Panglima Wijaya pun terkagum akan kekuatan perwira Chen. Setelah melayang sampai ke atas kepala Suwongso, perwira Chen langsung jatuh kebawah dengan pedang menghunus kebawah. Semua orang terkejut karena gerakan perwira Chen bagaikan elang terjun menangkap mangsa. Suwongso mencabut pedangnya dan menangkis serangan itu, namun ketajaman, kecepatan serta kekuatan pedang giok perwira Chen sangat besar sehingga golok besar Suwongso terbelah dua, dan pedang itu tepat berada diatas leher Suwongso.
“Sekarang apakah kamu sudah tahu kekuatan orang-orang Sung?”
“Hentikan sekarang juga” teriak panglima Wijaya.
Teriakan yang berwibawa itu mengagetkan dan sekaligus membangun lamunan semua orang yang ada di rapat itu.
“Kita masih ada musuh di depan, jangan lupakan hal itu. Sekarang kita akan bergabung dengan tentara Monggol untuk sementara, setelah itu kita baru akan menghabisi mereka apabila saatnya telah tiba, namun kita juga perlu hati-hati.”
Perkataan itu mengakhiri rapat militer malam itu.
Pada pagi harinya panglima Wijaya bersama Ayu dan perwira Suwongso menemui Jendral Subodai. Jendral Monggol itu menyambut kedatangan Wijaya dengan gembira dan meyetujui perjanjian itu. Setelah berbincang-bincang, perwira Suwongso berpamit dan berjalan-jalan di perkemahan Monggol. Ia melihat tentara Monggol yang berlatih perang dengan giatnya. Suwongso menjadi binggung karena latihan tersebut tidak pernah ia jumpai sebelumnya.
Tiba-tiba seorang perwira raksasa yang ukuran tubuhnya lebih sedikit dari Suwongso datang dan berdiri dibelakangnya. Perwira itu tingginya hampir mencapai dua setengah meter, dan bersenjatakan rantai besi raksasa yang diikatkan pada sebuah bola baja berukuran super besar. Suwongso menjadi kaget, namun karena ia tidak ingin kalah malu maka ia pun berdiri tegak dan berhadapan dengan perwira raksasa Monggol tersebut.
“Namaku Mao Ton, Senang berjumpa dengan anda” kata perwira Monggol itu.
Suwongso pun memperkenalkan diri dan akhirnya ia pun berpamit keluar dari perkemahan itu karena ia merasa suasana semakin tidak enak. Saat ia pulang ke perkemahan Wijaya, ia bertemu dengan Chen Mien. Ia pun berkata,
“Kemarin malam perkataanmu benar, Pasukan Monggol memang bukan sembarang pasukan”.
Chen Mien pun menjawab,
“Namun bukan berarti kita lemah, kita pun harus menunjukan kekuatan kita”. Dengan wajah tersenyum Chen Mien dan Suwongso berteman kembali dan berlomba minum pada malam itu.
Keesokan harinya Ayu pergi sendirian berkuda menemui Jendral Subodai. Subodai sangat senang karena pada hari sebelumnya, ia tidak dapat berbicara dengan Ayu. Subodai pun berkuda berdua bersama Ayu di tengah hutan. Ayu-pun berkuda cepat dan tiba-tiba kuda Ayu jatuh ke dalam tanah. Ternyata ada jebakan dihutan itu, dan kuda Ayu mati terkena ranjau tombak.
Tiba-tiba ada seorang gendut brewok diikuti dua puluh orang lainnya muncul secara tiba-tiba. Mereka adalah perampok gunung dan mencoba untuk merapok Ayu. Namun Subodai muncul dengan tiba-tiba juga, Kuda Subodai melompat tinggi diangkasa dan terjunlah tiga anak panah dan membunuh tiga perampok dalam waktu yang sama.
“Hmm.. dalam keadaan berkuda melayang, pria aneh itu dapat melepaskan tiga anak panah sekaligus dan membunuh tiga anak buah ku dalam waktu bersamaan. Siapakah orang itu?” tanya orang gendut brewok itu.
Saat kuda itu turun ke tanah, sepuluh perampok menyerang bersamaan, namun tombak Subodai dapat menangani mereka dengan sangat mudahnya. Badan Subodai tidak bergerak sama sekali, hanya kedua lengannya yang bergerak.
“Perampok busuk, dengan kekuatan kalian yang lemah, aku sanggup membunuh kalian dengan satu tangan”.
Lalu Subodai pun turun dari kuda dan orang gendut bersama anak buah itu menyerang bersamaan. Badan Subodai menghindar semua serangan seperti daun yang ditiup angin. Pedang Subodai menebas leher semua perampok dalam waktu bersamaan. Subodai pun membawa Ayu pergi dari tempat itu dengan kudanya. Kuda itu pun berlari kencang dan akhirnya mereka keluar dari hutan lebat itu dan menjumpai padang rumput yang subur dan indah. Ayu duduk diatas kuda tepat di depan Subodai.
Subodai memeluk badan Ayu dari belakang dan tanpa sengaja ia memegang payudara Ayu.
“Auww..” pinta Ayu.
Penis Subodai langsung menegang dan akhirnya Ayu berbalik kepalanya dan mencium bibir Subodai. Tangan Subodai langsung mengembara ke seluruh badan Ayu. Ayu langsung merubah posisi duduknya menghadap Subodai dari depan. Subodai dan Ayu langsung menelanjangkan diri dan melempar pakaiannya ke padang rumput itu. Kuda Subodai terus-terusan berlari dan melewati sungai besar.
Ciplakan air sungai yang berasal dari kuda itu menyemprot ke atas kuda dan mengenai badan Ayu. Terlihatlah tubuh yang indah bersinar terang. Paha Ayu langsung mengunci pinggul Subodai. Tangan Ayu langsung memeluk leher Subodai dan payudaranya menempel di dada Subodai yang gagah. Subodai langsung menancapkan penisnya ke anus Ayu. Kuda itu berlari dengan kencangnya, maka dengan otomatis badan Ayu dan Subodai terdorong ke atas dan kebawah. Semakin dalam sungai itu, semakin tinggi air yang menutupi ke dua tubuh mereka.
Subodai dari posisi duduk langsung membaringkan Ayu ke punggung kuda. Lalu cumbuan Subodai bertambah ganas diiringi dengan larian kuda. Akhirnya mereka berdua jatuh ke dalam sungai dan melanjutkannya didalam sungai. Saat kepala mereka berdua muncul ke atas sungai, kepala mereka berada dalam posisi ciuman. Paha Ayu masih menempel di pinggul Subodai, tangan Subodai menempel di kedua pantat Ayu dan penis Subodai telah masuk ke dalam vagina Ayu.
“Uh.. Oh.. Ah..” desahan kuat keluar dari mulut mereka berdua.
Akhirnya Subodai merasakan orgasme yang kuat dan memuncratkan spermanya di dalam sungai. Mereka pun kembali bangkit ke kudanya yang tengah beristirahat, dan kembali ke padang rumput untuk berpakaian kembali. Pada saat dipadang rumput kuda Subodai kembali kelelahan dan lapar, maka kuda itu beristirahat dan memakan rumput.
Subodai dan Ayu berbaring di rumput sambil bergandengan tangan. Gandengan itu tidak bertahan lama. Subodai langsung merangkul Ayu lalu mencium Ayu dengan ganasnya. Ayu membalas ciuman itu dengan tidak kalah ganasnya. Lidah mereka bermain-main didalam mulut. Kemudian Subodai langsung menelanjangkan dirinya dan Ayu. Ia pun langsung menjilati vagina Ayu. Tangan Ayu langsung memegang erat kepala Subodai dan mendorongnya kedepan vaginanya. Hal itu membuat Subodai bertambah ganas.
“Ah, Ah, nikmat.. Lagi.. Lagi.. Lagi” desah Ayu dengan wajahnya yang penuh kharisma dan rambutnya terbelai kebawah menutup sebagian wajah cantiknya.
Mulut Ayu terbuka sebagian mendesah kenikmatan. Lalu ia langsung bangkit dan menduduki wajah Subodai. Vaginanya menekan ke wajah Subodai. Beberapa saat kemudian, Subodai bangkit dan langsung menancapkan rudalnya ke lubang vagina Ayu. Wajah Ayu berubah bertambah seksi dan mengoda seperti rusa betina yang haus akan seks. Subodai bertambah ganas dan mencium sambil bercumbu pada Ayu. Beberapa saat kemudian ia mencapai tahap orgasme, dan menyemprotkan spermannya ke atas rumput. Mereka pun jatuh lemas, saling merangkul dan berciuman. Mereka pun tertidur sesaat sampai malam tiba, kemudian berkuda kembali ke perkemahan Monggol.
Malam itu juga Ayu pamit pulang ke perkemahan Wijaya, dan Subodai pun menyelesaikan makan malamnya. Setelah itu ia pun masuk ke kamarnya dan ingin tidur, namun tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Ternyata orang itu adalah Meng Chi.
“Apakah Jendral puas jalan-jalan ke padang rumput?” tanya Meng Chi.
“Apa maumu?” tanya Subodai.
“Aku tahu kalau Jendral mengijinkan kita berperang karena Jendral suka terhadap putri panglima Wijaya”.
“Apa katamu?” teriak Subodai.
“Jangan terlalu keras, Jendral. Apabila para tentara mengetahui hal ini, wibawamu akan hilang, semangat perang mereka pun menurun, dan kau sendiri akan mebdapat musibah besar”.
Subodai langsung mencabut pedangnya dan mengarahkan keleher Meng Chi.
“Kalau Jendral membunuhku, hal ini malah akan tersebar lebih cepat dikalangan tentara, ha ha..”
Subodai pun kembali memasukan pedangnya dan berkata,
“Aku mengerti apa maumu”.
“Selamat tidur Jendral” kata Meng Chi dan berpamit keluar dari kamar itu.
Subodai merasa gelisah dan tiba-tiba ia melihat perwira Baatur berdiri diluar pintu kamar itu dengan wajah sedih. Subodai menjadi sangat kaget, karena perwira setianya mengetahui masalah ia dan Ayu. Subodai tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya saling berpandangan dengan Baatur.
Kini jendral Subodai berada dalam masalah besar. Ia tidak sanggup menahan malu di depan perwira Baatur.
“Aku memang makhluk tak berguna. Aku rela mencemarkan namaku dan tidak menaati perintah Ka-Khan (atau Kubilai Khan) hanya demi seorang wanita,” kata Subodai dengan kepala tertunduk.
“Setiap orang pasti dapat berbuat salah. Namun yang Jendral perbuat hanyalah kesalahan kecil. Cinta memang patut diperjuangkan,” jawab Baatur.
Mendengar hal itu Subodai kaget dan mengankat kepalanya. Baatur lalu melanjutkan,
“Aku sebagai perwira tentara Monggol, mengabdi setia kepada Jendral sejak dulu. Harap Jendral dapat mempercayakan hamba dalam menjaga rahasia ini. Namun sangat disayangkan bukan hanya hamba yang tahu akan rahasia ini”.
“Meng.. Chi..,” kata Subodai dengan suara pelan.
Sementara itu di perkemahan tentara Wijaya, Panglima Wijaya menugaskan perwira Chen Mien untuk memimpin tiga ratus pasukan untuk menyerang pasukan pemberontak yang dipimpin oleh panglima Nawarjo. Pada malam itu juga Chen Mien langsung berangkat dengan misi serangan mendadak ke perkemahan musuh.
Dahulu pada saat raja Kertanegara meninggal, banyak jendral lain yang kabur dan membentuk pasukan tersendiri. Negeri Kertanegara terbagi menjadi empat bagian. Yang pertama adalah negeri selatan yang dipimpin oleh panglima Tanjung Palaka. Yang kedua adalah negeri barat yang dipimpin oleh panglima Lorosawe. Yang ketiga berada di sebelah timur, berbatasan dengan kerajaan Kediri, dipimpin oleh panglima Nawarjo yang kuat dan haus perang. Dan yang terakhir adalah negeri utara Jawa yang dipimpin oleh panglima Wijaya.
Serangan pada malam hari itu ditujukan untuk merebut negeri timur sehingga tentara Wijaya dapat menyerang kerajaan Kediri dengan mudah. Perwira Chen Mien melakukan sistem formasi barisan gerak cepat, sehingga pasukan Chen Mien melewati perbatasan negeri Timur sebelum fajar. Saat matahari mulai menampakan dirinya, perwira Chen Mien telah sampai di depan gerbang benteng Nawarjo, namun tiba-tiba gerbang benteng terbuka dan sekitar tiga ribu tentara menyerang keluar.
Chen Mien sadar kalau panglima Nawarjo telah mengetahui serangan mendadak. Chen Mien segera memerintahkan tiga ratus tentaranya untuk mundur, tetapi dari belakang terlihatlah sekitar dua ribu pasukan yang dipimpin panglima Tanjung Palaka menyerang untuk membantu Nawarjo. Ternyata Nawarjo telah membentuk persekutuan dengan Tanjung Palaka dan Lorosawe sejak lama. Chen Mien memerintahkan tentaranya untuk melakukan serangan puputan ke arah Nawarjo.
Serangan menggila itu berhasil dan Chen Mien hampir memenggal kepala Nawarjo, namun Tanjung Palaka dengan menaiki kuda hitam datang pada saat yang tepat dan menahan tombak Chen Mien. Melihat hal itu Nawarjo segera kabur ke dalam benteng dan mengunci gerbangnya. Tiga ribu tentara Nawarjo dibiarkan berperang diluar membantu Tanjung Palaka. Keadaan begitu kacau dan duel diantara Tanjung Palaka dan Chen Mien berlangsung seru.
Chen Mien langsung melempar tombaknya ke arah Tanjung, namun tombak itu berhasil di elakkan. Tiba-tiba tombak yang dilempar itu tertarik kembali ke tangan Chen Mien, rupanya ujung belakang tombak itu diikat tali, sehingga Chen Mien meraik kembali tombak itu dan mengayunkan secara kuat ke arah Tanjung. Ayunan itu berhasil memukul kepala Tanjung sehingga ia pingsan dan dilarikan tentaranya.
Perang itu berlangsung lama, sampai siang hari, kemudian datanglah seribu pasukan yang dipimpin oleh Lorosawe. Ia langsung kaget saat melihat perwira Chen Mien yang gagah dalam berperang dan pantang menyerah. Walaupun seluruh tentara Wijaya telah habis terbabat, Chen Mien masih berperang sendirian dan membunuh banyak orang. Lorosawe yang sudah tua ini terkagum, karena sampai umurnya yang sudah 58 ini baru pertama kali melihat pejuang yang gagah berani.
Namun tiba-tiba gerbang pintu benteng terbuka sekali lagi dan ratusan tentara tambahan menyerang keluar. Chen Mien terjatuh dari kuda dan kehilangan tombaknya. Ia lalu mengeluarkan pedang gioknya dan membabat musuh seperti membabat rumput. Pada saat itu Tanjung Palaka telah sadar dari pingsannya dan kembali menaiki kuda untuk menantang duel. Chen Mien yang sudah kelelahan itu akhirnya kalah dan jatuh tak sadarkan diri.
“Benar-benar satria yang luar biasa,” kata panglima Tanjung Palaka.
Nawarjo naik pitam karena ribuan tentaranya mati sia-sia, lalu ia mengeluarkan goloknya untuk menusuk Chen Mien, namun hal itu berhasil dicegah Lorosawe.
“Panglima tua, apa maumu?” geram Narwajo.
“Perwira ini adalah tangan kanan panglima Wijaya. Apabila kita tahan dia sebagai tawanan perang, tentara Wijaya tentu tidak akan berani berbuat macam-macam”.
Pada mulanya Narwajo tidak menyetujuinya, namun setelah Tanjung Palaka membela Lorosawe, akhirnya Chen Mien di bawa ke negeri Barat sebagai tahanan perang. Akhirnya Tanjung dan Lorosawe pun pamit untuk kembali ke kubu pertahanan masing-masing. Pada saat Lorosawe kembali, Narwajo melihatnya dari belakang dengan penuh curiga.
Beberapa hari kemudian Chen Mien terbangun dan ia berada di ranjang yang besar.
“Oh ternyata satria besar sudah bangun?” jawab seorang gadis.
Chen Mien lalu berkata, “Dimana ini?”
“Di kamarku” jawab gadis itu.
Chen Mien lalu melihat gadis itu dan merasa was-was pula. Gadis itu berpakaian anggun bagaikan seorang putri kerajaan. Wajah gadis itu manis dan cantik. Warna kulitnya putih agak kecoklatan. Dari bentuk tubuhnya yang indah dan payudara yang cukup besar, gadis itu dipastikan berumur 19 oleh perwira Chen Mien.
“Aku adalah Dwimurni putri dari panglima besar Lorosawe. Karena ayahku kau bisa selamat sekarang. Ayuh bersujud di depanku,” katanya dengan nada sombong.
“Karena kau adalah putri dari musuhku, maka kujadikan tawanan saja kau,” jawab Chen Mien.
Lalu ia mencampakkan dirinya dari ranjang dan tangan kanannya mencekek leher putri Dwimurni. Putri itu merasa kaget dan sadar kalau nyawanya diujung tanduk, namun cekekan itu malah melemas, dan Chen Mien terbenggong. Didalam hatinya ia berpikir,
“Mengapa tangan dan kakiku tidak dirantai. Apa mau panglima tua ini sebenarnya?”
Cekikan itu lalu lepas, dan tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Panglima lorosawe masuk diringi sepuluh tentara.
“Maafkan putriku yang kurag ajar. Ia memang suka bercanda layaknya seperti anak kecil”.
“Mengapa kau tidak membunuhku?” tanya Chen Mien.
“Ha ha.. Aku terkagum dengan keberanian dan kekuatanmu itu. Jadilah bawahanku. Kau akan kuberi apa saja yang kau mau. Tapi jikalau kau menolak, akan kupenggal kau.”
Lalu tentara Lorosawe mengeluarkan goloknya dan bersiap menyerang. Melihat hal itu Chen Mien melihat pisau kecil di dekat ranjang. Ia lalu dengan cepat merebut pisau itu dan mengarahkan ke lehernya sendiri.
“Lebih baik mati daripada mengkhianati atasanku”.
Melihat hal itu Lorosawe langsung menghentikan tentaranya,
“Jangan terlalu gegabah perwira. Ha ha ha… Aku hanya bercanda. Sebetulnya aku baru saja mengirim surat kepada Panglima Wijaya untuk bersekutu. Tentara Wijaya akan mengantarmu pulang besok malam.”
Mendengar hal itu Chen Mien baru mau meletakan pisaunya,
“Mengapa kau berubah pikiran dan mengkhianati perjanjianmu dengan panglima Narwajo?” tanya Chen Mien.
Lorosawe mempersilahkan Chen Mien ke ruang tengah istana dan menceritakan semua masalahnya. Ternyata setelah ia bersekutu dengan Narwajo, ia terus mendapat masalah. Banyak gadis cantik diminta Narwajo sebagai hadiah, dan yang paling parah putri Dwimurni akhir-akhir ini dipaksa untuk menikah dengan Narwajo. Setelah itu Lorosawe menanyakan mengapa Chen Mien tidak sayang nyawa dalam pertempuran. Chen Mien pun menceritakan kalau ia berasal dari negeri Sung (nama kerajaan di China dulu). Di Negheri Sung, Nama besar dan kesetiakawanan menjadi nomer satu dalam perang. Sedangkan nyawa dinomer duakan menurut adat istiadat dan budaya negeri Sung. Semakin banyak pertanyaan yang diutarakan Lorosawe, Semakin bangga ia mendengar jawaban dari Chen Mien. Akhirnya Chen Mien dipersilahkan untuk pergi beristirahat di kamar yang telah disiapkan. Saat Chen Mien beranjak pergi Lorosawe berkata dalam hati,
“Apabila aku yang pertama kali bertemu dengannya. Alangkah beruntungnya aku”.
Pada saat Chen Mien pergi ke kamarnya, ia melewati kamar mandi pribadi milik putri Dwimurni. Pintunya terbuka sedikit dan tanpa sengaja Chen Mien melihat Dwimurni sedang mandi. Perwira Chen Mien tidak dapat mengelakkan pandanganya dari tubuh putri Dwimurni yang begitu moleknya. Air yang menyiprat secara pelan membuat kulitnya basah dan seksi. Sinar matahari dari luar jendela membuat badannya bersinar terang akibat pantulan dari air dibadannya. Rambut panjangnya yang diayunkan ke belakang membuat wajah cantiknya terlihat jelas. Kedua belah payudara yang agak besar itu membuat Chen Mien makin terangsang. Penis Chen Mien langsung menegang naik.
Posisi Dwimurni yang duduk itu membuat kedua belah pahanya terlihat menggoda. Warna kulitnya yang seksi menawan membuat Chen Mien makin tak tahan untuk berpaling kepala. Dwimurni teringat tangan Chen Mien yang perkasa dan hangat memegang lehernya. Dwimurni lalu meraba dirinya sendiri dan membayangkan wajah dan tubuh Chen Mien yang perkasa. Jari Dwimurni menusuk-nusukan vaginanya sendiri. Setelah beberapa menit ia mengocok vaginanya, akhirnya ia mendesah kenikmatan
“Ah…”
Lalu cairan putihnya keluar dari vagina secara perlahan-lahan. Dwimurni lalu bangun berdiri dan menyiramkan dirinya dengan air dari atas kepala. Air itu mengalir melewati tubuh seksi itu bagaikan air sungai yang perlahan-lahan mengalir. Chen Mien melihat tubuh Dwimurni dari belakang dan terlihatlah otot pantat Murni yang padat dan seksi sekali. Cairan dari vaginanya bercampur dengan air mengalir keluar dari bulu-bulu vaginanya yang basah. Chen Mien sadar kalau ia berdiri terlalu lama, maka ia pun beranjak pergi ke kamarnya sendiri.
Pada malam harinya Dwimurni terlihat lesu didalam kamar. Pembantunya datang menanyainya,
“Apakah ada masalah, Putri terlihat lesu dan tidak nafsu makan”.
“Kemanapun aku pergi, aku terus membayangkan kang Chen Mien. Aku sedih waktu itu aku terlalu sombong kepadanya. Sekarang ia pasti sangat membenciku”.
“Tidak juga putri,” jawab pembantunya.
“Buktinya waktu tadi putri sedang mandi Kang Chen Mien terus-terusan berdiri melotot tubuh putri”.
Dwimurni menjadai kaget, “Benarkah?”
Lalu pembantu itu menjawab, “Iya, benar. Aku dari tadi melihatnnya dari jauh kok”.
Wajah putri Dwimurni menjadi merah seperti apel, Dwimurni lalu tersenyum malu,”Nakal juga kamu, perwira Chen”.
Pada pagi harinya Chen Mien tanpa sengaja melewati kamar tidur putri Dwimurni. Pintu kamarnya pun tidak tertutup. Terlihatlah tubuh indah Dwimurni yang dibungkus selimut halus. Ternyata Dwimurni senang tidur dalam keadaan telanjang. Melihat hal itu Chen Mien tidak dapat menahan nafsunya yang membara. Ia lalu masuk ke kamar itu dan mengunci pintunya dari dalam.
Chen Mien lalu menanggalkan baju dan celananya. Setelah itu ia naik ke atas ranjang yang empuk dan setengah berbaring tepat di belakang Dwimurni. Tangannya mengelus paha Dwimurni secara halus, dan kemudian elusan itu sampai ke atas lengan Dwimurni. Lalu Dwimurni sedikit terbangun namun matanya masih tidak bisa dibuka karena masih dalam keadaan sangat ngantuk. Chen Mien lalu menempelkan badannya ke punggung Dwimurni dan memeluknya dari belakang. Tangannya menekan-nekan vagina Dwimurni.
“Ah.. Ah.. Jangan Kang Chen Mien” kata Murni secara pelan dan menggoda.
Penis Chen Mien sudah tegang panjang dan menekan garis pantat Murni yang padat berisi. Bibir Chen Mien mencium pipi Murni dengan ganas, dan tangannya terus memeras payudara dan vagina Murni. Paha Murni langsung diangkat dan mengunci lengan Chen Mien yang memegang vaginanya, jadi secara otomatis lengannya menempel di vaginanya.
Penis Chen Mien terus-terusan digosok-gosok pada pantat padat itu, kemudian Murni membalikkan badannya dan memegang kepala Chen Mien secara erat. Chen Mien langsung mencium bibir serta memainkan lidahnya, yang juga dibalas dengan tidak kalah ganasnya oleh Dwimurni. Proses adu lidah itu diiringi dengan tubuh dari kedua belah pihak yang saling menempel dan mengosok-gosokan ke lawannya. Chen Mien Berada di posisi atas dan Dwi berada diposisi bawah. Akhirnya Chen Mien melepaskan mulutnya dan terlihatnya air liur yang banyak mengalir dari mulut kedua belah pihak.
Chen Mien lalu menjelajah ke bagian bawah dan menempelkan kepalanya ke vagina Dwi. Jilatan yang kuat mengakibatkan Dwi mendesah kuat dan kejang. Cairan putih keluar dari vagina Dwi terasa manis dan mengairahkan. Dwi hanya bisa mengerang nikmat dan kedua tangannya masih memegang kepala Chen Mien. Akhirnya Chen Mien bangun dengan posisi bersujud di ranjang, paha Dwi ditarik, dan Jess.. Penis Chen Mien di tusuk ke dalam vagina dwi.
“Ah…!!” teriak Dwi karena tidak tahan sakit.
Chen Mien tidak memperdulikan teriakan itu, ia hanya terus terusan mencumbui Dwi sampai akhirnya ia merasa orgasme kuat. Dwi yang belum bisa membuka mata sejak tadi hanya terbaring dengan posisi vagina terus ditusuk, Dwi menikmati saat itu sampai akhirnya ia mendengar suara erangan Chen Mien dan viginanya terasa terisi cairan hangat yang banyak. Dwi merasa seperti masuk ke surga, lalu ia merasa ingin kembali tidur.
Dan tiba-tiba ada suara yang memanggilnya, “Putri, ayuh bangun, sudah pagi!”
Putri Dwimurni terbangun dan sadar kalau ia hanya sedang bermimpi. Ia kembali sedih karena mengira ia telah berhasil mencumbui Chen Mien. Lalu ia pun bangun dari ranjangnya dan mandi. Setelah itu di siang hari ia berjalan-jalan ketaman. Tiba-tiba ia bertemu dengan perwira Chen Mien. Ia menjadi malu dan menundukkan kepala.
“Selamat siang putri,” sapa perwira itu.
“I.. I… Iya, Selamat siang.. Maaf waktu itu aku terlalu sombong,” jawab putri itu dengan cepat karena grogi akibat terlalu banyak pikiran kotor.
“Tidak apa-apa, aku tahu putri hanya bercanda pada waktu itu,” jawab Chen Mien. Putri itu menjadi malu dan tersenyum.
Tiba-tiba seorang tentara datang memanggil perwira Chen dengan alasan panglima Lorosawe ingin bertemu. Perwira Chen langsung berangkat pergi. Putri Dwimurni menjadi kesal karena tidak dapat berbicara lama dengan Chen Mien.
Karena putri Dwimurni tidak dapat berbincang-bincang dengan pria yang ditaksirnya, maka ia kembali kekamarnya. Pada malam harinya ia mendengar bahwa perwira Chen Mien telah selesai mengajar ayahnya bermain permainan penguasaan wilayah (salah satu dari permainan China kuno yang mirip dengan catur). Chen Mien pun telah kembali ke kamarnya. Putri Dwimurni mengetahui bahwa itu adalah malam terakhir baginya untuk bertemu dengan sang kekasih.
Ia-pun pergi ke kamar Chen, namun sampai tengah perjalanan di dalam istana, ia merasa malu dan kembali ke kamarnya. Ia terus-terusan gelisah karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, maka setelah lama kemudian akhirnya ia berdiri dari ranjangnya dan memutuskan untuk menjengguk perwira Chen untuk yang terakhirnya.
Sesampainya ia dipintu kamar sendiri, di bukalah pintu itu dan tiba-tiba seorang pembantunya dataang dengan wajah penuh darah dan cabikan golok. Putri Dwimurni pun kaget dan berteriak.
“Putri, cepat kabur, pasukan Narwajo sudah berada dalam istana ini” kata pembantu itu, kemudian ia jatuh ke tanah dan mati seketika.
Putri Dwimurni segera lari keluar dari kamarnya dan menuju taman istana. Disana ia melihat ratusan tentara berperang dan mayat panglima Lorosawe terbaring diatas pancuran air taman.
“Ayah!!..” teriak Dwimurni sambil menangis.
Kemudian ia sadar kalau di belakangnya ada seorang jahat, besar, dan penuh dengan otak busuk, berdiri dibelakanganya.
“Salam putri, Namaku Pamong, perwira tinggi yang paling dipercayai oleh panglima Narwarjo dalam melaksanakan setiap tugas.”
Pria itu badannya gendut sekali dan tingginya mencapai lebih dari dua meter. Ia lalu mengangkat golok besarnya dan bersiap untuk menghancurkan Dwimurni berkeping-keping. Tiba-tiba sebuah panah melesat menusuk lengan Pamong. Ternyata perwira Chen Mien telah datang dengan menaiki sebuah kuda. Ia melesat cepat dan mengendong putri Dwimurni ke atas kuda. Lalu mereka pun kabur sampai keluar istana.
Ratusan tentara mencoba mengejar dan membunuh mereka berdua, namun Chen Mien berhasil melindungi putri cantik itu sampai ke hutan. Namun tiba-tiba puluhan tentara bayaran muncul secara tiba-tiba didalam hutan itu. Karena harus melindungi putri itu, maka Chen Mien banyak menerima sabitan tombak dan pedang. Baju perang Chen terkoyak-koyak dan banyak darah mengalir keluar. Chen Mien terus bertahan sampai akhirnya puluhan orang itu berhasil dibunuh semua.
Putri Dwimurni duduk di depan Chen Mien dan dipeluk dari belakang agar aman. Pelukan hangat itu membuat putri Dwimurni merasa nyaman, lalu putri itu mendekatkan kepalanya ke dada Chen. Perwira Chen Mien lalu melihat wajah putri yang cantik dan terkena sinar bulan itu dengan pandangan yang hangat. Namun tiba-tiba perwira gendut Pamong muncul dengan ratusan tentara berkuda dari belakang. Chen lalu berkuda dengan kecepatan tinggi sampai keluar dari hutan itu.
Setelah sesaat kemudian perwira Pamong pun berhasil keluar dari hutan itu, namun ia tiba-tiba terdiam karena di depan hutan itu ada ribuan tentara Wijaya yang dipimpin oleh perwira Suwongso.
“Chen Mien, pergilah ke perkemahan sekarang, biar cecurut ini aku yang tangani”.
Chen Mien pun melesat cepat kabur. Badan Suwongso hampir sama besar dengan perwira Pamong. Karena mereka berdua mempunyai gengsi yang sama, maka mereka berdua turun dari kuda dan duel satu lawan satu, tanpa menggunakan senjata. Perkelahian mereka berdua disaksikan oleh ribuan tentara secara kagum. Dua perwira raksasa bergulat di bawah sinar rembulan berlangsung sangat seru. Tanah dan pasir pun terangkat dan teriakan mereka berdua membuat binatang-binatang disekitar kabur ketakutan. Mereka saling meninju dan membanting. Beberapa saat kemudian mentari pun menampakkan kepalanya. Duel itu masih belum selesai. Namun akhirnya kedua perwira itu memutuskan untuk melanjutkannya dilain hari. Perwira Pamong kembali ke benteng pertahanan Lorosawe, sedangkan perwira Suwongso berkuda kembali ke perkemahan Wijaya.
Perwira Chen yang masih berkuda cepat itu mengendong putri Dwimurni dengan erat-erat. Tanpa sengaja tangannya menyentuh payudara putri. Perwira Chen segera menarik tangannya dari tempat terlarang itu, namun ditahan oleh tangan putri. Akhirnya perwira Chen tidak dapat menahan nafsu, dan melanjutkan mengembara di tubuh bagian depan putri. Penis Chen pun menegang sehingga dapat dirasakan oleh putri itu.
Akhirnya mereka pun sampai di perkemahan Wijaya dan perwira Chen pun jatuh dari kuda karena telah kehilangan banyak darah. Luka lamanya pun banyak yang terbuka kembali. Maka ia segera dilarikan ke bagian perawatan. Chen Mien baru bangun setelah beberapa hari. Saat ia bangun terlihatlah putri Dwimurni tertidur diatas selimut Chen. Maka Chen pun mengendong putri itu secara pelan-pelan dan menaruhnya diranjang serta membantu menutup selimut padanya. Chen lalu menganti baju lamanya dengan baju perang. Proses mengganti baju itu terlihat oleh Sang putri karena ia pun baru saja bangun. Terlihatlah otot yang kekar, dan menawan dari tubuh Chen. Setelah itu putri langsung kembali tidur.
Perwira Chen keluar dari perkemahan itu dan disambut oleh tentara yang berjaga disekitar daerah itu. Perwira Chen pun meluangkan waktu beberapa saat untuk berbincang-bincang dan membagi pengalaman dengan para tentara. Lama kemudian tiba-tiba Panglima Wijaya datang ke tempat itu bersama perwira Suwongso. Akhirnya mereka pun berbincang lama disana hingga pagi.
Beberapa hari kemudian diadakanlah upacara peringatan kepada panglima Lorosawe yang dibunuh tentara Narwajo. Upacara itu dilakukan dibelakang hutan di dekat perkemahan itu. Akhirnya pada sore hari semua orang pulang ketempat masing-masing kecuali putri Dwimurni dan perwira Chen. Karena tidak ada orang lagi, maka Sang putri akhirnya bisa melepaskan tangis sedihnya yang telah lama ia simpan. Perwira Chen pun sedih karena panglima Lorosawe selalu memperlakukan perwira Chen dengan hormat. Dwimurni menangis dan akhirnya dipeluk oleh perwira Chen. Dwimurni menangis sambil memeluk balik Sang perwira. Air tangisan itu membasahi dada perwira yang membuatnya bertambah dendam dengan panglima Nawarjo.
Akhirnya mereka pun berkuda balik ke perkemahan. Saat ditengah hutan terjadilah hujan deras. Putri itu yang telah terdiam sejak lama duduk diatas kuda tepat di depan perwira Chen. Hujan makin deras dan kuda itu akhirnya hanya bisa diikatkan di pohon untuk sementara waktu. Perwira Chen akhirnya memeluk erat putri Dwimurni dan berkata,
“Aku bersumpah akan memenggal kepala Nawarjo dengan tanganku sendiri. Aku akan membalaskan dendam kita berdua”.
Putri itu pun melihat ke wajah Chen yang sangat serius pada waktu itu. Akhirnya putri itu memeluk balik dengan penuh hangat dan berkata terima kasih. Perwira Chen melihat wajah cantik putri itu dan lalu mencium bibirnya.
Ciuman yang hangat itu diterima oleh Sang putri dan dibalas dengan hangat pula. Hujan bertambah deras dan abju mereka basah semua. Kedua payudara putri yang berisi makin terasa hangat dan akhirnya penis Chen pun berdiri tenggang. Akhirnya mereka berdua menelanjangkan masing-masing dan berpelukan dalam keadaan telanjang. Hujan pun bertambah deras dan air pun mengenai kedua tubuh mereka bagai pancuran air mandi. Kedua tangan Chen meraba dari punggung sampai ke pantat. Punggung Dwi sangatlah seksi dan pantatnya pun padat berisi.
Akhirnya mereka berdua bersandar di pohon. Rabaan Chen Mien sampai ke paha mulus Dwi. Putri itu pun mengangkat pahanya sebelah kanan agar lebih mudah dan enak diraba. Setelah paha itu diraba hingga puas. Chen turun ke bagian bawah paha Dwi dan menjilati vaginanya. Kedua paha Dwi langsung mengapit keras kepala Chen. Tangannya pun mendorong kepala Chen agar masuk lebih agak dalam. Kedua betis Dwi disilangkan ke belakang punggung Chen. Punggung Dwi pun tertekan ke pohon. Proses luar biasa itu berlangsung lama dan Chen kemudian puas menjilati vagina putri itu.
Chen menerobos silangan betis Dwi, Akhirnya silangan kaki yang mengunci kepala Chen sekarang mengunci pinggul Chen. Lalu Chen pun memasukkan penisnya ke dalam vagina Dwi dan dilakukan berulang ulang. Kedua tangan Dwi berpegang pada dua ranting pohon yang besar agar tidak jatuh. Kedua tangan Chen meraba-raba payudara dan tubuh bagian lain Dwi secara ganas, sedangkan penisnya mencumbui vagina Dwi secara berulang-ulang.
“Oh.. Oh.. Satria ku.. Kekasihku.. Ah!!..” desah Dwi.
Setelah itu, ranting pohon yang besar itu pun patah dan Dwi berdesah keras karena ia mencapai tahap orgasme,
“Aaahhhh..!!..”.
Perwira Chen langsung bertukar posisi. Sekarang Dwi berdiri dan memperlihatkan pantat seksi dan padatnya itu. Chen langsung menjilati pantat yang basah akibat terkena air hujan itu dengan ganasnya. Jilatan itu berlangsung dari kulit mulus pantat sampai ke dalam lubangnya.
“Slrup.. Slrup”
Akhirnya Chen kembali berdiri dan mencumbui pantat Dwimurni.
“Ahh..” teriak kenikmatan Dwi secara keras dan membangkit selera Chen.
Pantat yang padat dan seksi itu dibekali dngan lubang yang padat. Pada pertama kalinya lubang itu gampang ditembus dari luar karena ada air hujan, namun makin dalam lubang itu, makin sempit. Karena saking nikmatnya cumbuan lubang sempit itu, maka perwira Chen akhirnya mencapai tahap orgasme dan spermanya mengucur keluar didalam pantat Dwi.
Akhirnya mereka jatuh lemas dan bersender di pohon dalam keadaan berpelukan dan berciuman. Lidah dan gigi Dwi dan Chen saling beradu dan akhirnya air liur Dwi semua dihisap dan ditelan Chen.
“Mmm… Mmm…” desah Dwi.
Hisapan itu membuat pipi Dwi menipis. Lalu mereka melanjutkan ciuman itu dan apabila liur itu sudah penuh maka giliran Dwi yang menghisap semuanya, dan hal itu dilakukan secara bergantian dan berulang-ulang. Setelah hujan reda akhirnya mereka berkuda balik ke perkemahan.
Di keesokan harinya mereka berdua demam, dan banyak orang yang mengatakan bahwa putri Dwi sangat cinta pada ayahnya sehingga putri berdoa untuk ayahnya walaupun dalam keadaan hujan. Banyak orang juga mengatakan bahwa perwira Chen sangatlah setia dan menghormati Lorosawe, sehingga ia rela berdiri seharian di tempat upacara itu walau hujan turun lebat. Tidak ada seorangpun yang tahu kalau cerita sebenarnya adalah mereka berdua bercumbu saat hujan lebat di tengah hutan.
Keesokan harinya Suwongso memimpin lima ribu tentara dan menyerang daerah barat untuk merebut kembali tanah kerajaan bekas Lorosawe itu. Serangan ke istana itu disambut dengan serangan perwira gendut Pamong yang tak kalah ganasnya. Karena serangan mereka berdua begitu ganas, maka akhirnya tiga ribu tentara dari pihak Wijaya gugur, sedangkan dari pihak musuh, lima ribu tentara gugur, dan Pamong sendiri mati terbunuh oleh sabetan golok besar Suwongso. Ternyata perwira gendut Pamong tidak jago menggunakan senjata. Ia hanya jago dalam bergulat. Suwongso merasa kecewa karena musuhnya itu ternyata jauh lebih lemah dari yang ia harapkan.
Akhirnya Wijaya berhasil menguasai bagian barat dan tentaranya bertambah banyak dan kuat sejak saat itu. Sedangkan pada saat itu juga panglima Nawarjo tidak mengetahui berita buruk itu. Ia masih berpesta atas kemenangannya dalam membunuh pengkhianat. Puluhan gadis cantik menari setengah telanjang di pesta itu. Nawarjo yang sudah bernafsu badak itu langsung menelanjangkan dirinya dan bergabung dengan puluhan wanita cantik yang sedang menari.
Para wanita itu menggodanya dengan selendang sutra. Tangan Nawarjo dengan ganas bergerak kesana kemari untuk memegang payudara dan pantat para penari. Penari itu lalu semua bergerak menempel ke Nawarjo dan sekarang badan Nawarjo di penuhi dengan tempelan payudara dan pantat. Penis Nawarjo Diapit oleh kedua payudara dari salah satu penari. Arak dan anggur bersiram-siraman membuat tubuh basah dan enak dirasa.
“Ha.. Ha.. Ha.. Ha, ini memang surga dunia” teriak Nawarjo sambil menjilati punggung wanita yang manis akan rasa anggur.
Lalu ia pun jatuh ke ranjang yang telah disiapkan. Puluhan wanita itu mengerogoti tubuh Nawarjo dengan ganas. Muka Nawarjo diduduki oleh vagina penari. Tangan kirinya diapit payudara dan tangan kanannya diduduki pantat yanng padat berisi. Penisnya pun telah dicumbui oleh para penari. Kedua kakinya di tempeli payudara-payudara seksi. Sedangkan dada dan perutnya ada yang diduduki penari, dan ada juga yang menempelkan payudaranya.
Wanita yang menduduki wajah Nawarjo itu mecapai tahap orgasme dan air vaginanya bersiram keluar serta dihisap semuanya oleh Nawarjo. Lalu wanita itu berdiri dan di ganti tiga wanita lainnya. Tiga wanita lainnya itu langsung menciumi bibir Nawarjo dan tiga lidah dari wanita seksi yang bercampur liur itu menjelajah dengan ganasnya didalam mulut Nawarjo.
Tidak lama kemudian seorang tentara datang dan melaporkan bahwa wilayah barat telah dikuasai Wijaya. Nawarjo langsung bangun terbengong-bengong. Para penari semua lari pergi ketakutan. Nawarjo yang dalam keadaan terangsang akan seks, di kageti dengan berita yang sangat buruk. Penis Nawarjo langsung melemas kembali.
Ia pun berteriak keras dan menendang meja makan kecil di depannya.
“Beraninya perwira besarku dibunuh, dan wilayahku dirampas,” kata Nawarjo, kemudian ia terdiam sebentar lalu berteriak keras,
“Wijayaaa..!!!”
Mata dan wajahnya berubah merah. Giginya tertekan keras dalam mulutnya sampai mengeluarkan darah. Dendam Nawarjo ini sangatlah besar. Apakah ini berarti ia akan menyerang Wijaya secara habis-habisan ?
Pada keesokan harinya, perang besar dimulai. Di suatu daerah dekat perbatasan, terbentanglah sawah yang luas. Terlihatlah para petani yang sedang menanam padi. Salah seorang petani terlihat lelah dan sedang berdiri sebentar untuk beristirahat setelah ia capek membungkuk lama. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari jauh. Terjadilah gempa yang dahsyat. Air di sawah itu pun bergetar, dari pelan hingga menjadi besar. Petani itu menjadi binggung. Saat ia melihat keteman-temannya, semua petani lain pun terlihat binggung. Lalu ia mendengar suara dari atas langit.
Saat ia menoleh ke atas, terlihatlah ratusan burung terbang dengan cepat bagaikan menjauhi sesuatu daerah. Petani itu lalu melihat ke arah burung itu datang, dan saat itu ia baru sadar kalau ada asap debu yang mengepul besar ke atas. Ia menjadi takut, dan binggung entah harus kabur kemana, karena didalam hatinya ia berpikir apabila terjadi topan badai yang besar, maka lari pun percuma saja. Kemudian ada seorang petani yang berteriak di atas bukit dari arah asap debu itu.
“Oi.. Ayo cepat kemari, lihat ini!!”.
Petani itu menjadi binggung karena temannya mengajaknya untuk mendekati ke arah datangnya asap debu itu.
“Apakah dia sudah gila” pikirnya dalam hati.
Tetapi ia melihat puluhan petani lainnya berlari ke atas bukit, maka akhirnya ia pun memberanikan dirinya untuk berlari ke atas bukit. Saat ia memanjat bukit, agaklah susah dilakukan karena gempa itu masih belum berakhir. Kemudian saat ia berhasil memanjat sampai ke atas, kini ia baru tahu apa yang sedang terjadi.
Sekitar ratusan ribu tentara berkuda menyerang dari sebelah timur dan menabrak ratusan ribu tentara berkuda lainnya yang menyerang dari sebelah barat. Tanah pun bergoncang hebat akibat perang yang menggila itu. Lebih dari tiga ratus ribu tentara terlibat dalam perang yang begitu dahsyatnya. Para petani tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Tiba-tiba perang antar pasukan berkuda itu makin membesar dan para petani itu segera lari turun dari bukit itu, dan beberapa saat seketika perang itu menyebar hingga ke sawah.
Puluhan ribu tentara saling membunuh dan membuat sawah itu berubah menjadi warna merah darah. Ternyata tentara yang berperang adalah tentara Nawarjo dan tentara Wijaya. Penglima Nawarjo sendiri yang memimpin perang itu. Perang besar itu terus menyebar dan para tentara ada yang berperang sampai ke dalam hutan didekat daerah itu.
Dari jauh terlihatlah dua orang satria berbaju besi lengkap dan berkuda menerobos sekumpulan tentara. Setiap tentara yang melawan langsung habis dibabat. Ternyata mereka adalah perwira Chen Mien dan perwira Suwongso. Pasangan ganda itu berhasil menerobos ribuan tentara berkuda sampai ke sebuah kereta perang besar yang dijaga banyak tentara. Diatas kereta itu panglima Nawarjo memimpin pasukannya dalam berperang.
Melihat kedua perwira itu menyerang ke arahnya, maka Nawarjo memerintah tentara yang disekitarnya untuk memenggal perwira Suwongso. Ratusan tentara langsung menyerang membabi buta, namun badan Suwongso sangat besar, maka ia dapat menangkis serangan musuh dengan gampangnya. Suwongso lalu mengangkat salah seorang musuhnya lalu dilempar ke tentara lain.
“Cepat bunuh keparat Nawarjo, biar aku yang tangani cecurut ini,” teriak Suwongso.
Chen Mien langsung berkuda secepat kilat, ia lalu loncat dari kuda itu dan melayang sejauh tiga setengah meter. Lalu ia melempar tombaknya ke arah Nawarjo. Panglima Nawarjo lalu mengeluarkan pedangnya dan menangkisnya.
“Hah…, apakah hanya ini kemampuanmu?” teriak Nawarjo, namun tanpa disadari dalam waktu yang bersamaan, Chen Mien juga melempar pedangnya.
Nawarjo yang sombong dan tidak siap itu langsung kaget dan berusaha menangkis datangnya pedang. Namun itu sudah terlambat, pedang itu menancap tepat di dada Nawarjo. Teriakan Nawarjo yang kesakitan itu membuat semua tentara berpaling ke arahnya. Akhirnya Nawarjo tewas dan seluruh tentaranya menyerah serta ditawan Wijaya.
Pada malam harinya seluruh tentara Wijaya melakukan pesta pora bersama para penduduk. Jendral Subodai sendiri datang memberi selamat kepada panglima Wijaya. Setelah pesta, maka perwira Chen Mien pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Beberapa saat kemudian putri Dwimurni datang memberi selamat kepada perwira Chen, lalu mereka pun ngobrol bersama. Setelah beberapa saat kemudian Dwimurni berkata,
“Ih badanmu bau deh”.
“Iya, dari tadi saya sibuk berpesta setelah menang perang,” jawab perwira Chen Mien.
“Aku mandinya besok saja deh, sekarang aku sudah lelah dan ngantuk”.
Putri Dwimurni menjadi kesal dan berkata, “Tidak boleh, ayo mandi sekarang. Saya mandi-in deh”.
Lalu tangannya langsung menarik lengan Chen ke kamar mandi. Perwira Chen yang pada pertamanya malu dan tidak mau, akhirnya mau-mau juga. Perwira Chen disuruh masuk ke bak mandi yang penuh dengan air berwarna merah muda. Air tersebut ternyata bukan air sembarangan, namun air yang telah dicampur sari bunga dari puncak gunung Sawolaran yang biasa digunakan untuk membuat obat pembangkit selera pria dan wanita. Air itu mempunyai bau yang sangat wangi dan menggoda.
Akhirnya perwira Chen ditelanjangi oleh Dwimurni dan setelah itu mereka berdua masuk secara perlahan-lahan ke dalam bak mandi tersebut. Chen Mien duduk di dalam bak itu dan tinggi airnya hampir mencapai dada perwira itu sedangkan putri Dwimurni berlutut dibelakang Chen dan membersihkan punggungnya. Setelah itu tangan Dwimurni pun menjalar hingga dada perwira yang kekar itu, kedua payudara Dwi yang padat langsung menempel ke punggung Chen. Ternyata putri itu sudah tidak tahan lagi ingin melakukan hubungan seks, karena pengaruh air mandi yang berkhasiat itu.
Penis Chen pun sudah berdiri sejak air yang hangat itu menyentuh dan meresap ke dalam penisnya.
“Oh.. Ah..” desah Chen secara pelan karena salah satu tangan Dwi telah masuk ke dalam air dan mengocok penis Chen. Beberapa saat kemudian, Chen tidak tahan lagi, ia langsung berbalik badan dan memeluk Dwi secara erat-erat. Kedua payudara Dwi sekarang menempel dan tertekan keras ke dada Chen. Dwi langsung memeluk Chen dengan erat dan kepalanya disandarkan ke dada Chen.
“Apakah engkau mencintaiku,” tanya putri itu.
“Kau adalah permata hatikku. Aku rela meratakan dunia ini hanya untukmu,” jawab Chen dengan mata tertutup pula.
Kedua paha Dwi langsung mengapit keras pinggul Chen dan betisnya disilangkan dibelakang punggung Chen. Cahaya dari obor api dan lilin yang remang-remang membuat warna kulit Dwi yang putih kecoklatan makin membangkit selera. Chen langsung menjilatinya sampai puas. Namun di kulit Dwi yang basah itu banyak terdapat air mandi yang berkhasiat bunga seks, sehingga Chen Mien makin ganas dan langsung mencumbui Dwi tanpa membasahi vaginanya lagi.
Dwi langsung menarik sebuah tali besar disamping bak mandi itu, dan kemudian sebuah lubang terbuka dari langit-langit dan air hangat berkhasiat langsung mengucur keluar dari lubang itu serta mengisi air bak itu hingga penuh. Sekarang tinggi air itu menutupi dada kedua sang kekasih. Chen langsung mencumbui Dwi tanpa henti. Cumbuan itu membuat air dibak banyak yang mengalir keluar, namun air di bak itu tidak pernah habis karena air yang telah disiapkan sangatlah banyak. Cumbuan ganas itu diiringi dengan ciuman dan adu lidah yang mesra.
“Ah.. Ah.. Ah..!!!” desahan itu keluar dari kedua mulut sang kekasih.
“Ah.. Aku juga mencintaimu sayang,” kata Dwi, namun Chen tidak dapat berkata apa-apa karena ia tidak pernah menikmati percintaan yang begitu hebatnya.
Tidak lama kemudian kedua-duanya mencapai orgasme dan mengeluarkan sperma serta cairan ovum ke dalam air mandi. Karena air mandi itu mengandung khasiat yang tinggi dan masih dalam keadaan yang sangat hangat. Chen Mien dan Dwimurni, kedua badan mereka menjadi bergetar, sehingga mereka berdua bergetar dalam pelukan mesra di dalam air hangat. Getaran itu terjadi karena tahap orgasme mereka melebihi batas. Jidat Chen langsung menempel ke Jidat Dwi, karena ia merasa orgasme yang terlalu nikmat.
Setelah mandi akhirnya mereka segera keluar dari kamar mandi dan tidur bersama. Namun tidur mereka itu berlangsung dua hari, dan di hari ketiga badan mereka masih lemas. Banyak dukun-dukun yang telah mencoba untuk mengobati mereka, namun para dukun disogok untuk tetap diam dan mengarang cerita lain untuk membohong para masyarakat agar berita malu itu tidak tersebar kemana-mana.
Pada pagi harinya Chen Mien dipanggil kerapat militer untuk menentukan nasib seratus lima puluh ribu tentara tawanan perang. Banyak orang yang menganjurkan agar tentara itu dibunuh, namun hanya Chen Mien yang menolak ajakan itu.
“Apabila seratus lima puluh ribu tahanan itu kita bunuh, maka di hari lain tidak ada lagi orang yang mau menyerah kepada kita. Apabila orang sebanyak itu saja kita bunuh, nanti bagaimana dengan masa depan apabila musuh kita lebih sedikit? Tentunya mereka tidak akan menyerah dan berperang mati-matian. Dan juga apabila semua tahanan dibunuh, maka kita sama saja dengan menanam kebencian kepada seratus lima puluh ribu keluarga, dalam kata lain lebih dari lima ratus ribu orang akan membenci kita, lalu ditambah dengan teman, dan sanak keluarga, serta saudara jauh mereka. Jutaan orang akan membenci kita bahkan mungkin tentara kita sendiri akan memberontak terhadap kebijakan ini. Lebih baik kita lepaskan saja mereka, toh mereka juga tidak ada pemimpin lagi. Nawarjo telah kita bunuh.”
Penjelasan itu membuat Wijaya tidak jadi membunuh para tahanan, namun ia melepaskan mereka semua sesuai anjuran Chen. Para tahanan merasa terharu dan lebih dari lima puluh ribu tentara enggan pulang, dan bergabung dengan panglima Wijaya. Nama Panglima Wijaya makin populer dan dikagumi semua masyarakat di Nusantara.
Seminggu kemudian ratusan ribu tentara pun dipersiapkan untuk menyerang musuh terakhir yaitu panglima dari negeri selatan, Panglima Tanjung Palaka. Ia adalah satu-satunya panglima kuat yang pernah mengalahkan perwira Chen Mien dalam duel satu lawan satu dulunya. Perwira Chen Mien ditugaskan untuk merebut daerah itu.
“Aku tidak perlu dua ratus ribu tentara. Sepuluh ribu saja sudah cukup,” kata perwira Chen yang disambut gembira oleh Panglima Wijaya.
“Bah, sombong, memangnya kamu bisa melakukannya?” tanya perwira Suwongso dengan suara lantang.
“Ha, ha, ha. Kalau aku sendiri yang memimpin tentu saja tidak bisa, Namun kalau kamu ikut membantu maka tugas ini akan menjadi seringan bulu,” jawab Chen Mien.
“Ha, ha, kau ternyata masih ingat padaku. Aku memang sudah tidak sabar untuk ikut berperang,” kata perwira besar itu.
“Mana mungkin aku lupa pada saudaraku ini,” jawab Chen Mien yang membuat Suwongso bertambah senang.
Akhirnya sebelum perang mereka berdua mengangkat saudara. Perwira Chen menjadi kakak angkat dari perwira Suwongso, karena umurnya yang lebih tua setahun dari perwira besar itu. Akhirnya mereka pun berangkat. Dimedan perang, panglima Tanjung Palaka telah bersiap perang. Perwira Chen segera mengajak panglima itu untuk duel ulang satu lawan satu. Duel itu berlangsung dari siang hingga malam tanpa henti. Para tentara tidak percaya apa yang mereka lihat. Para tentara itu berdiri saja sudah kecapekan, namun Chen Mien dan Tanjung Palaka masih berduel tanpa mengenal lelah.
Beberapa saat kemudian Chen berkuda kabur yang diikuti dengan seluruh tentaranya. Tanjung Palaka langsung merasa senang dan memburunya hingga ke daerah semak belukar. Beberapa jam kemudian Tanjung Palaka kehilangan jejak terhadap Chen Mien, karena tentara yang dipimpin Chen Mien hanyalah seratus orang saja. Tiba-tiba angin bertiup kencang, dan terciumlah bau busuk, seperti bau ikan. Tanjung Palaka tiba-tiba sadar akan bahaya di depannya, namun sudah terlambat.
Ternyata dibawah semak-semak belukar itu dipenuhi minyak ikan. Para tentara Chen langsung melepaskan panah api dan membuat semak belukar itu menyala. Kobaran api itu membuat malam menjadi seterang siang hari. Puluhan ribu tentara mati terbakar. Tanjung langsung lari dan mundur ke bentengnya, namun bentengnya telah direbut oleh Suwongso.
Ternyata duel disiang hari hanyalah jebakan dari Chen. Tanjung Palaka langsung berkuda kabur ke hutan dengan membawa tiga ribu orang. Pada saat mereka sampai di tengah hutan, mereka beristirahat sebentar. Tanjung Palaka segera memerintah para perwiranya untuk berdiskusi. Diskusi itu tidak berjalan lancar, karena mereka mendengar teriakan tentara dari arah luar hutan, dan dalam sekejap mata, para tentara musuh sudah menyerang sampai ke depan. Tanjung Palaka terpaksa kabur dengan para perwiranya.
Akhirnya pagi pun tiba dan hujan turun dengan derasnya. Para perwira dan panglima telah kehabisan tenaga. Mereka terus-terusan melihat bendera musuh di sekitar mereka. Akhirnya para perwira mengkhianati panglima mereka sendiri. Mereka mengikat Tanjung Palaka saat ia sedang tidur kecapaian dan mengantarnya ke Chen Mien.
Melihat hal itu Chen Mien langsung memerintah tentaranya untuk menghukum mati para perwira musuh,
“Aku paling benci para pengkhianat. Apabila panglima kalian saja bisa kalian khianati seperti ini, bagaimana dengan aku yang hanyalah perwira kecil,” kata Chen Mien dengan wajahnya yang penuh amarah.
Chen Mien langsung mengambil pisau kecil dan memotong semua tali yang mengikat panglima Tanjung Palaka serta memberinya mantel agar panglima itu terhindar dari derasnya air hujan,
“Apa-apaan ini,” tanya panglima yang sedang kebinggungan itu.
“Anda adalah panglima yang hebat. Aku benar-benar kagum pada anda sejak pertama kali kita berperang,” jawab Chen Mien.
Panglima Palaka itu terharu lalu bersujud di depan Chen dan berkata, “Aku juga sangat kagum pada anda. Anda tidak hanya kuat dan jantan, namun anda juga memiliki hati nurani yang besar. Aku Tanjung Palaka merasa sangat terhormat dapat gugur ditangan anda.”
Chen Mien langsung mempersilahkan ia berdiri dan membujuknya untuk bergabung dengan Panglima Wijaya. Ia langsung setuju dan bersumpah untuk rela mati memperjuangkan ambisi Wijaya untuk menguasai Nusantara.
Dengan bergabungnya Tanjung Palaka ratusan ribu rakyat ikut senang, karena negeri Kertanegara kuno yang telah terpecah belah, kini telah menyatu kembali. Panglima Wijaya sendiri datang ke negeri selatan dan saat ia bertemu dengan Tanjung Palaka, mereka langsung berpelukan. Ratusan ribu rakyat langsung menangis terharu karena mereka sekarang dapat bertemu kembali dengan sanak saudaranya yang terpisah lama, sejak kerajaan Kertanegara di pecah belah. Upacara itu juga sekaligus melantik Wijaya menjadi Jendral dan menguasai wilayah Kertanegara yang dulu.
Namun upacara itu tidak berakhir dengan bagus. Ada seorang tentara yang terluka berat dan berkuda ke arena upacara. Tentara itu langsung jatuh dari kuda pada saat ia melihat Jendral Wijaya,
“Perkemahan kita diserang tentara Kediri,” kata tentara itu dan menghembus napas terakhir.
Chen Mien langsung memimpin puluhan ribu tentara ke daerah itu dan menemukan banyak mayat. Para rakyat mengatakan bahwa banyak orang yang diculik termasuk putri Dwimurni sendiri. Perwira Chen langsung terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa.
Ternyata hal licik itu dilakukan oleh panglima dari Kediri, panglima Merauke. Serangan tiba-tiba itu dilakukan untuk menghancurkan kekuatan Wijaya pada saat ia tidak siap. Serangan itu berhasil, dan WIjaya harus membangun ulang kerajaannya dalam waktu paling sedikit satu setengah tahun. Putri Dwimurni ditahan di kamar panglima Merauke siang dan malam.
Pada suatu hari panglima itu masuk ke kamarnya dan menarik lengan Dwi secara kasar ke dalam kamar mandi. Dwi tidak dapat melawan karena panglima itu cukup kuat. Akhirnya panglima itu langsung mendorong Dwi masuk ke bak mandi itu dan memutar sebuah tombol rahasia. Tiba-tiba air mengucur deras bagaikan hujan alam di bak mandi itu. Merauke langsung menelanjangkan diri dan masuk ke bak itu. Putri itu hanya memakai pakaian yang sangat tipis dan terbuat dari sutra, sehingga air yang mengucur deras itu membuat kedua payudara Dwi terlihat jelas. Vagina Dwi pun terlihat menggoda.
Merauke langsung tersenyum dan merobek pakaian itu sampai setengah telanjang. Dwi terus-terusan berteriak, namun tangannya tidak bertenaga untuk mendorong lawannya. Merauke langsung memeluk erat Dwi dan menjilati pipi, bibir, dan punggung Dwi secara ganas. Beberapa saat kemudian Dwi menjadi lemas dan tangannya yang menjambak rambut Merauke akhirnya malah memegang kepala lawannya secara pelan.
Merauke langsung turun kebawah dan mengunyah payudara Dwi serta menikmatinya pelan-pelan. Lalu ia pun turun ke daerah lebih bawah dan menghisap vagina Dwi. Tangan Dwi tetap memegang kepala Merauke namun wajahnya dipenuhi air mata yang mengucur. Merauke langsung berdiri dan mencumbui Dwi dengan gaya berdiri. Kedua tangannya menahan pantat dan punggung Dwi agar ia tidak jatuh. Sedangkan mulut dan lidahnya kembali mengunyah payudara Dwi bagian lain. Kepala Dwi terkena siraman air mandi dan air matanya bercampur dengan air mandi itu.
Akhirnya air di bak itu penuh. Merauke langsung membaringkan diri ke air di bak mandi dan mengapung. Kedua pahanya mengunci tubuh Dwi dan ia memerintah agar Dwi membantunya untuk mengarahkan penisnya ke dalam pantat Dwi. Akhirnya Dwi hanya bisa menurut saja.
“Ah.. Ahh.,” Merauke merasa kenikmatan yang sangat dahsyat.
Ia mencumbui pantat Dwi sambil mengapung di atas air. Tak lama kemudian sperma pun mengucur keluar deras ke dalam pantat Dwi. Merauke masih belum puas, ia memerintah Dwi untuk melakukan ciuman di dalam air. Dwi pun menurutinya. Merauke hanya diam di dalam air, dan Dwi mengambil udara dari atas air, dan mentransfernya ke dalam mulut Merauke didalam air dalam bentuk ciuman. Hal itu dilakukan tiga kali dan, akhirnya Merauke merasa puas dan berdiri. Namun Dwi berkata,
“Sayangku jangan pergi dulu, aku masih belum puas dan mencapai tahap orgasme, tolong jilat vaginaku di dalam air yah sayang,” kata Dwi sambil memeluk erat Merauke.
Panglima genit itu merasa senang dan menurutinya. Ia menyelam ke dalam air dan Dwi duduk dimukanya. Dwi melihat ada dua buah kayu yang menghubung bak mandi, ia langsung tahu kalau kesempatan ia telah datang, maka ia langsung mengapit keras kepala Merauke, dan menutupnya erat dengan vaginanya. Kedua tangan Dwi langsung memegang erat kedua kayu yang ia lihat agar ia dapat menahan kepala Merauke didalam air.
Merauke yang keasyikan menjilat vagina itu akhirnya kehabisan udara. Ia tidak bisa keluar dari air karena kepalanya diapit kedua paha Dwi, dan ia pun telah kehabisan banyak tenaga untuk mencumbui pantat Dwi sebelumnya. Akhirnya setelah ia memberontak didalam air selama beberapa menit, akhirnya ia tewas. Dwi pun kembali menangis dan berkata,
“Selamat tinggal kekasihku, perwira Chen. Aku akan selalu ingat asmara kita berdua”. Lalu ia langsung bunuh diri dengan mengigit lidahnya sendiri.
Keesokannya hal ini tersebar keseluruh Nusantara dan Chen Mien berteriak keras saat mendengar hal itu.
“Dwii….!!” jeritan keras itu terdengar diseluruh perkemahan Wijaya dan suaranya menggema sampai ke pedesaan sekitar.
Chen Mien langsung muntah darah karena tenggorokannya luka akibat jeritan yang terlampau besar itu. Panglima Chen Mien langsung jatuh pingsan. Seminggu kemudian diadakanlah upacara peringatan putri Dwimurni yang dihadiri ratusan ribu tentara dan rakyat. Mereka semua merasa sedih atas kemalangan yang luar biasa menimpa panglima Chen Mien yang telah banyak berjasa kepada rakyat.
Setelah upacara itu mata Chen berubah merah, seperti api dan dari mulutnya banyak darah menetes keluar. Ternyata dendamnya sudah melebihi langit. Panglima Chen Mien menggigit giginya sendiri sampai mengeluarkan darah. Cinta panglima Chen dan putri Dwimurni yang begitu besar itu menjadi legenda dalam masyarakat.
Dengan wajah penuh amarah Chen Mien berkata, “Kediri! Tunggulah pembalasanku yang lebih kejam nantinya”.
Apakah ini berarti kiamat bagi seluruh rakyat kerajaan Kediri?
Chen Mien jelas-jelas berkata Kediri, bukan jendral, tentara, ataupun raja Kediri. Perkataan itu secara jelas menerangkan bahwa panglima Chen Mien menanamkan dendam kepada seluruh masyarakat kediri.
Akankah pembantaian besar ini terjadi di negeri terkuat di Nusantara?
Musibah apakah yang akan menimpa kerajaan Kediri ini?
Bagaimanakah cara Wijaya membangun negerinya secara cepat agar bisa menguasai Nusantara?
*****
Setelah misi penyerangan secara tiba-tiba ke kubu pertahanan Jendral Wijaya berlangsung sukses, Raja Kediri, Jayakatwang yang dulunya pernah membunuh raja Kertanegara, mengadakan pesta pora. Pada malam itu pesta berlangsung dengan sangat meriah. Banyak panglima dan penasehat yang bergembira atas kemenangan mereka. Namun Jayakatwang sendiri hanya terdiam saja. Wajahnya murung dan tidak nafsu makan. Banyak pejabat yang binggung dan bertanya kepada sesama mereka masing-masing. Seorang Jendral besar yang bernama Sanjaya memberanikan diri untuk berjalan ke depan Sang Raja dan menanyakan apa yang membuat rajanya sedih. Jendral Sanjaya adalah jendral yang kuat dan cerdik. Badannya tinggi kekar, hampir mencapai dua meter. Walau umurnya sudah lima puluhan, ia masih segar bugar, dan dapat berperang layaknya seperti waktu ia muda. Jayakatwang lalu berkata,
“Sayang sekali, panglima yang berjasa dalam perjuangan itu tidak dapat hadir disini. Namun ia malah terbunuh oleh putri Dwimurni setelah menang perang”.
Lalu Jayakatwang menangis. Para tamu yang hadir pada waktu itu merasa kagum akan Jayakatwang yang selalu perhatian kepada bawahannya. Akhirnya pesta itu menjadi sunyi senyap dan para tamu semua menghabiskan waktu mereka pada malam itu untuk mengenang panglima yang telah gugur demi kerajaan.
Keesokan harinya Jendral Sanjaya menawarkan diri untuk bertugas di daerah perbatasan guna untuk menjaga keamanan negara. Sanjaya kemudian membangun kubu pertahanan yang besar. Ia sendiri memimpin dua puluh ribu tentara dan bercokol di daerah-daerah yang strategis untuk pertahanan. Beberapa minggu kemudian ia mendengar bahwa ada ribuan perampok menjarah dan membantai penduduk desa. Jendral Sanjaya menjadi marah dan memimpin seribu tentara untuk menangkap para perampok itu. Perwira Arjuna yang merupakan putra dari Jendral Wiguna mendapat tugas untuk menjaga benteng pertahanan. Sedangkan panglima kepercayaan sang jendral, Anggito, mendapat tugas untuk mengikuti sang jendral dalam menangkap para penjahat.
Akhirnya mereka pun berangkat dan menyerang markas perampok di sebuah goa di kaki gunung. Para perampok itu sedang melakukan pemerkosaan massal. Banyak wanita dan gadis desa yang berteriak dan menangis. Keadaan mereka telanjang dan masing-masing diapit oleh dua sampai tiga pria. Payudara mereka diperas, dan lubang pantat serta vagina mereka di paksa tembus dalam waktu bersamaan. Melihat hal itu jendral Wiguna naik pitam. Ia langsung menyerang membabi buta para perampok itu. Ribuan perampok mati terbantai, dan para tahanan, dikebiri hingga mati. Tiba-tiba muncullah pemimpin perampok itu. Ternyata ia adalah seorang pendekar yang menggunakan racun dalam menghabisi lawannya. Namanya adalah Tantong. Pendekar ini berumur lima puluh dua tahun, dan biasa dipanggil Datuk Tantong.
Jendral Wiguna dan panglima Anggito langsung menyerang ke arah datuk itu. Datuk itu lalu melepaskan tiga belas panah racun sekaligus dan berhasil melukai sang jendral dan panglima. Datuk itu lalu melempar bola kecil ke tanah dan bola itu meledak mengeluarkan gas berwarna merah. Sehabis gas itu hilang sang datuk juga sudah kabur entah kemana. Jendral Wiguna yang sudah terkena panah racun segera berjalan ke arah panglimanya, lalu menghisap keluar racun dari tubuh panglima itu.
“Jendral!!” teriak panglima Anggito.
“Tidak apa-apa, tubuhku sudah terkena racun dari tadi. Segeralah kau balik ke benteng pertahanan dan bawa semua orang keluar dari goa ini,” kata sang jendral dan akhirnya pingsan.
Panglima Anggito segera membawa balik sang jendral ke benteng pertahanan dan memerintah semua tabib dan dukun untuk mengobati sang jendral. Tidak ada satu-pun dukun yang bisa berbuat apa-apa. Akhirnya muncullah satu dukun yang terkenal. Ia pun segera di perintah untuk menyelamatkan nyawa sang jendral dengan imbalan yang sangat besar. Dukun itu memeriksa sang jendral dan mengeleng-geleng kepala.
“Kasihan sang jendral” katanya, kemudian ia melanjutkan “Hanyalah teman lamaku, tabib Xun Yang, yang bisa mengobatimu”.
Lalu perwira Arjuna segera mempertanyakan keberadaan tabib hebat itu. Dukun itu pun berkata bahwa tabib itu berasal dari negeri Sung, dan sekarang tinggal di desa Pecinaan. Arjuna pun segera berangkat dan ditemani oleh tiga orang. Yang pertama adalah panglima Anggito. Yang kedua adalah teman lamanya sejak kecil, Sinta. Ia adalah seorang gadis yang umurnya lima tahun lebih muda dari Arjuna. Sinta walaupun berumur dua puluh, namun ia sangat gesit dan pandai dalam memanah. Yang satunya lagi adalah teman lama Arjuna juga. Namanya adalah Tanto. Ia adalah pemuda yang tidak kekar, namun berani dalam melakukan hal apa saja. Tinggi badannya sama dengan Arjuna yaitu 176 cm. Akhirnya mereka pun berangkat bersama. Mereka tidak membawa satu tentarapun karena hal itu akan memperlambat perjalanan mereka.
Siang dan malam mereka berkuda dan akhirnya mereka pun tiba di desa pecinaan. Di desa itu masyarakat mayoritasnya adalah warga negeri Sung, karena desa itu baru dibangun tidak lama. Terlihatlah seorang pemuda, dan berkuda ke arah Arjuna diiringi dua puluh tentara.
“Siapa kau, orang luar dilarang kemari ” kata pemuda itu.
Tanto lalu marah dan berkata, “Beraninya kau menghina kami. Kami adalah orang penting dari kerajaan Kediri. Ini adalah perwira Arjuna, anak dari Jendral Sanjaya.”
Mendengar hal itu pemuda itu langsung turun dari kuda dan membungkukan badan sebagai tanda memberi hormat.
“Maafkan kelancanganku, ternyata anda adalah anak dari Jendral yang menumpas kawanan perampok.”
Pemuda itu langsung mempersilahkan rombongan Arjuna untuk masuk ke desa itu. Pemuda itu badannya tidak begitu besar. Tingginya 178 cm, umurnya 30 tahun dan ia adalah kepala desa di daerah itu. Ia bernama Huang Man, tabib yang terkenal itu kemudian dipanggil dan memeriksa sang Jendral yang dibawa didalam kereta. Tabib itu kemudian mengatakan bahwa sang jendral terkena racun yang ganas. Hanyalah obat ginseng yang dicampur dengan tanaman dentet yang dapat mengobati racun itu. Pada saat itu tabib Xun Yang hanya mempunyai ramuan ginseng saja. Sedangkan tanaman dentet itu adalah tanaman yang sangat jarang ditemukan. Tanaman itu sangat berkhasiat dan hanya dapat tumbuh di puncak gunung Lorojangkung.
Akhirnya rombongan Arjuna pergi ke gunung itu yang ditemani oleh Huang Man. Sepanjang jalan itu entah berpuluh-puluh perampok dan binatang buas yang ditemui mereka, namun itu bukanlah masalah besar karena rombongan Arjuna jauh lebih kuat, namun sang jendral besar yang terkena racun itu tidak bisa tahan terlalu lama. Setelah mereka sampai digunung itu terlihatlah asap besar, ternyata datuk Tantong sedang membakar tanaman berkhasiat itu. Teman Arjuna, Tanto langsung berlari dan menyelamatkan salah satu tanaman itu, serta melemparnya ke Arjuna. Walau Arjuna dapat mengamankan tanaman itu, Tanto tidak sempat kabur dan mati terbakar. Dukun itu menjadi marah dan mengeluarkan panah racunnya yang berkhasiat.
“Ini adalah racun terakhirku, kalau tumbuhan ini tidak dibasmi, maka racunku bukanlah racun terhebat di Nusantara,” teriaknya.
Sinta langsung bergerak cepat dan memanah racun itu. Cairan racun itu jatuh dan meresap ke dalam tanah. Datuk itu menjadi marah dan memanggil dua ekor macan kumbang peliharaanya. Sinta langsung memanah macan yang berlari ke arahnya. Anak panah itu terkena leher macan, dan membuatnya jatuh ke tanah. Anggito dan Huang Man langsung mencabut pedangnya dan memenggal kepala macan itu. Sedangkan Arjuna yang naik pitam karena kematian temannya langsung berlari ke arah datuk itu.
Macan yang satunya lagi langsung mengejar Arjuna, dan terjadilah perkelahian yang luar biasa. Arjuna hanya berbekal pedang kecil, namun dapat membunuh macan kumbang itu. Arjuna masih belum puas, lalu mencabut kerisnya dan melompat ke arah datuk itu. Datuk itu jatuh ketanah dan berteriak tolong. Keris yang tajam dan berlikuk-likuk itu ditusuk dan ditarik di leher datuk itu secara berulang-ulang. Teman-teman Arjuna langsung berusaha menariknya pergi karena api kobaran digunung itu semakin besar. Akhirnya mereka berhasil kembali ke desa pecinaan dalam waktu tepat, dan mengobati sang jendral. Panglima Anggito langsung kembali ke benteng pertahanan untuk menjaganya. Sedangkan sang jendral harus beristirahat di desa itu selama beberapa bulan. Akhirnya Jendral itu sembuh dan kembali ke pos pertahanan.
*****
Pada suatu hari Arjuna dan Sinta pun pergi ke hutan dimana mereka bermain pada masa kecil. Mereka pun berlarian seperti anak kecil, dan pada saat mereka kecapaian, mereka memanjat dan beristirahat di sebuah pohon yang besar sekali. Sinta berbaring di atas pohon tepat disebelah kanan Arjuna. Mereka pun mengobrol lama tentang masa lalu sampai masa sekarang. Tiba-tiba Sinta bertanya,
“Apakah kang Arjuna suka sama saya?” lalu membaringkan kepalanya di bahu Arjuna.
Perwira itu langsung kaget dan setelah agak lama akhirnya ia memeluk bahu Sinta dengan tangan kanannya. Sinta dan Arjuna langsung saling berpandangan, dan akhirnya wajah mereka makin lama makin dekat. Akhirnya mereka berciuman. Ciuman hangat itu berubah menjadi adu lidah dan liur. Arjuna melihat ranting pohon yang kaya akan daun-daun besar. Lalu ia menarik ranting-ranting itu sehingga menutup mereka berdua. Diatas pohon besar, di dalam ranting-ranting, mereka bercumbu secara mesranya. Cahaya matahari yang terik tidak dapat tembus ke dalam ranting itu. Beberapa sinar sempat masuk lewat lubang-lubang daun, dan terlihatlah tubuh indah milik Sinta yang ditempeli oleh badan kekar milik Arjuna.
Pantat dan payudara Sinta lumayan berukuran sedang (B atau C cup) itu lembek, dan enak dipegang seperti bantal tidur. Tubuh Sinta pun lunak dan enak untuk dicumbui. Saat vaginannya dijilat, langsung ovumnya bercucuran keluar. Paha Sinta terus-terusan diraba oleh Arjuna karena sangat mulus dan lunak. Pantat elastis Sinta dipukul dan bergoyang seperti agar-agar.
“Aduh,” teriak Sinta, dan pantatnya langsung berubah merah semua. Sinta langsung bertambah manja,
“Ah.. Jangan gitu dong… “
Arjuna langsung menjilat pantatnya dengan ganas. Beberapa menit kemudian, ia langsung mencumbui pantat wanita cantik itu. Goyangan pantat yang lembek itu membuat Arjuna makin terangsang. Sinta langsung dibuat membungkuk agar lebih mudah dicumbui. Dada Arjuna langsung menempel di punggung Sinta, dan kedua tangannya memeras payudara Sinta. Rambut Sinta yang panjang terurai ke bawah, dan akhirnya menjadi berantakan karena sodokan kuat dari belakang yang tanpa henti. Akhirnya kayu yang besar itu tidak mampu menahan asmara mereka yang mengebu-ngebu.
Begitu mereka mencapai tahap orgasme, kayu itu pun patah dan mereka berdua jatuh dari pohon. Begitu mendarat di tanah, mereka melihat puluhan anak kecil dan remaja di bawah pohon itu. Ternyata mereka sudah lama berdiri dan mengamati proses bercinta itu. Akhirnya Arjuna marah dan mengusir mereka semua. Setelah itu mereka pulang kembali ke kubu pertahanan mereka, namun ditengah jalan mereka melewati sebuah bukit besar. Saat melewati bukit angker itu, hari sudah sore dan terdengarlah suara aneh dimana-mana. Santi menjadi takut dan memeluk Arjuna dari belakang. Arjuna melihat ada asap dari belakang bukit itu.
“Masa, setan membuat api unggun” kata Arjuna kepada Sinta.
Lalu mereka merangkak ke balik bukit itu. Mereka benar-benar tidak percaya apa saja yang baru mereka lihat. Puluhan ribu tentara aneh berkubu dibalik bukit itu. Mereka berbicara bahasa aneh, berambut botak, dan hanya ada dua kunciran rambut panjang dari atas kedua telinga mereka. Arjuna tidak tahu pasukan apa yang mereka lihat, namun mereka melihat disamping bendera bergambar naga emas, ada bendera Wijaya. Ternyata mereka adalah pasukan Monggolia yang diperintah Wijaya untuk melakukan serangan tiba-tiba ke negeri Kediri, namun Arjuna dan Sinta tidak mengetahuinya.
“Pasukan musuh! Sejak kapan mereka memasuki wilayah kita? Dari mana Wijaya mempunyai pasukan sebanyak ini dalam waktu satu bulan?” kata Arjuna.
Lalu mereka berkuda secara cepat untuk melaporkan hal itu kepada ayahnya. Beberapa minggu kemudian berita itu telah menyebar sampai seluruh pelosok tanah air Kediri bahwa tentara Monggolia telah memasuki wilayah Kediri, dan pada saat yang bersamaan Raja Jayakatwang juga menerima berita bahwa puluhan desa sudah dibakar hingga menjadi abu. Ratusan ribu warga dibantai secara kejam, dan para wanita serta gadis desa diculik.
Pada malam itu juga di perkemahan Monggol, panglima Meng Chi bersama sepuluh perwiranya mengadakan kontes pemerkosaan. Semua wanita dan gadis cantik dikumpulkan disebuah sel yang besar, lalu panglima dan perwira-perwira itu masuk ke sel itu dan beradu perkosa. Semua wanita dan gadis sudah dalam keadaan bugil. Mereka hanya berjongkok dan menutupi tubuh mereka dengan tangan dan lutut. Para jahanam itu berlomba untuk memperkosa wanita terbanyak. Meng Chi dan para perwira langsung berlari ke arah wanita cantik, menarik tangan dan rambut mereka lalu mencumbui mereka hingga tahap orgasme, lalu berpindah ke wanita lain.
Semua wanita hanya bisa menangis dan berteriak. Lomba itu diadakan dalam waktu 3 jam. Ada yang dicumbui vaginannya, ada juga yang dicumbui pantatnya. Ada yang dipeluk secara paksa. Beberapa wanita ada yang vaginanya menempel keras pada penis perwira sehingga kaki mereka tidak menyentuh tanah, dan tubuh mereka terangkat. Semua juri yang berpartisipasi adalah para tentara yang jumlahnya ratusan. Akhirnya tiga jam pun berlalu. Meng Chi menjadi pemenang karena berhasil memperkosa tiga belas cewek dalam tiga jam itu.
“Semua wanita dan gadis Nusantara yang berkulit coklat itu memang cantik dan seksi,” kata Meng Chi.
Setelah itu para perwira kembali ke kamar masing-masing dan tidur, sedangkan para tentara itu sekali lagi menikmati para wanita tahanan itu. Puluhan wanita mati karena tidak tahan akan sodokan dari ratusan tentara.
Keesokan paginya Subodai dan para perwira bersiap untuk membumi hanguskan benteng perbatasan yang dijaga jendral Sanjaya. Apakah perang ini akan berhasil, atau apakah tentara Monggol itu akan kalah mengingat, ada Jendral Sanjaya dan panglima Anggito yang menjaga benteng itu. Ternyata Strategi jendral Wijaya adalah membangun kekuatan sementara itu mengutus tentara Monggolia untuk menghabisi musuh-musuhnya.
*****
Pada pagi harinya di depan benteng perbatasan milik kerajaan Kediri, berdirilah puluhan ribu tentara dari daratan utara. Panglima besar Suwongso memimpin beberapa puluh tentara untuk mengamati kekuatan lawan serta kekuatan tentara Monggolia. Pada malam sebelumnya panglima Chen Mien telah melarang panglima Suwongso untuk hadir di daerah itu, namun panglima Suwongso tetap keras kepala dan heran atas gagasan Chen Mien. Saat Suwongso sedang berpikir panjang tiba-tiba seorang panglima perang Monggol menyapanya dari belakang.
“Salam, panglima Suwongso, sungguh jodoh kita dapat bertemu lagi.”
Ternyata dia adalah panglima Monggol yang badannya jauh lebih besar dari Suwongso.
“Ah.. Panglima Mao Ton, sudah lama kita tidak bertemu sejak di perkemahan dulu.”
Panglima Monggol ini masih saja bersenjatakan bola baja raksasa dan berduri yang diikatkan ke rantai besi. Melihat hal itu panglima Suwongso yakin bahwa senjata itu adalah senjata andalan panglima raksasa itu. Semua tentara yang dibawa oleh Suwongso bergetar ketakutan saat melihat panglima besar itu tertawa keras.
“Senjata mereka besar-besar, sedangkan senjata kita kecil-kecil, seperti keris…” kata seorang tentara dan sebelum ia melanjutkan kata-katanya Suwongso mempelototinya sehingga ia tidak berani berbicara apa-apa.
Tak lama kemudian panglima Monggol memohon pamit dan bergerak ke barisan terdepan. Akhirnya gendang raksasa dibunyikan, puluhan orang meniup terompet besar dan akhirnya tentara berkuda itu menerjang ke depan seperti kerasukan. Angin yang dihasilkan oleh mereka pun bertiup sekencang topan. Suwongso kaget karena ia tidak melihat seorang tentarapun yang membawa tangga. Lalu bagaimana tentara itu akan masuk ke dalam benteng, tanyanya dalam hati.
Ratusan panah yang dilepaskan tentara Kediri tidak melukai satupun tentara Monggol karena mereka semua memakai baju perang yang terbuat dari baja. Para tentara Monggol memanah balik dan banyak tentara Kediri yang terpanah di bagian yang vital seperti mata, leher, ataupun jantung. Banyak tentara yang kabur dan meninggalkan dinding benteng. Tiba-tiba Mao Ton muncul dari kepulan debu. Ia berlari ke pintu benteng dan mengayunkan bola bajanya sekencang mungkin.
“DUAR!!!” Bola itu membuat pintu benteng kayu itu hancur, dan saat Mao Ton menarik senjatanya, duri besar dari bola baja itu menarik serat kayu dari pintu, sehingga pada ayunan ke dua kalinya pintu itu langsung bolong, dan bagian lainnya langsung retak semua. Pada ayunan ke tiga kali langsung saja pintu itu hancur berantakan. Suwongso langsung getar karena takut akan kekuatan musuh yang begitu besar. Ribuan tentara kuda langsung memasuki benteng pertahanan itu. Ribuan tentara Kediri terbantai oleh keganasan tentara Monggol. Jendral Sanjaya langsung berkuda dan bersenjatakan pedang menyerang ke arah ribuan tentara.
“Swing” sabetan dari pedang sang Jendral luput. Badan tentara Monggol itu melesat cepat diatas kuda. Kedua kaki tentara itu mengapit keras pada perut kuda, dan badannya lurus ke arah bawah. Lalu tentara itu memanah lewat kaki kuda yang sedang berlari, dan panah itu tepat mengenai mata kuda sang Jendral. Tentara itu langsung kembali ke posisi duduk di atas kudanya dalam sekejap mata. Kuda sang Jendral langsung jatuh dan Jendral Sanjaya menabrak sebuah batu besar sehingga pedangnya terlepas dari tangan.
Lalu saat ia ingin mengeluarkan kerisnya seorang tentara memanah tangannya sehingga keris itu jatuh ke tanah, tiba-tiba di depannya muncul Jendral Subodai. Subodai langsung mencekik Sanjaya dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan. Dalam keadaan tercekik, Sanjaya berkata dengan suara terbata-bata,
“Siapakah… kalian… sebenarnya?”.
Subodai menjawab,”Orang lemah sepertimu seharusnya membusuk di neraka saja.”
Lalu cekikan itu bertambah keras, dan menghancurkan leher jendral itu. Darah bercucuran keluar dan menetes di wajah Subodai. Lalu jendral Mongol itu menjilati darah yang berada dimukanya. Hal itu membuat Suwongso terdiam dan tidak dapat berbuat apa-apa, tiba-tiba ia dikagetkan oleh tentaranya, karena sebagian tentara jatuh pingsan dan beberapa diantaranya mati ketakutan. Panglima Suwongso sekarang baru sadar mengapa pada malam sebelumnya ia dilarang oleh panglima Chen Mien untuk datang ke daerah itu.
Akhirnya benteng pun direbut, namun tentara Mongol itu langsung membakarnya, Suwongso menjadi binggung karena benteng itu dibangun didaerah yang cukup strategis untuk bertahan. Lalu ia akhirnya berkuda ke tempat sang Jendral dan mohon pamit untuk kembali ke wilayah Jendral Wijaya. Saat itu ia melihat semua wajah tentara Mongol berubah mengerikan. Wajah mereka bukan lagi tampak seperti manusia namun seperti kawanan serigala yang lapar dan haus darah. Wajah mereka semua kejam, dan tersenyum. Akhirnya sebelum Suwongso pulang ia mendengar salah seorang perwira bertanya kepada Subodai.
“Jendral, hari masih pagi. Daerah mana lagi yang harus kita makan?”
Suwongso baru sadar bahwa para tentara Mongol itu tidak perlu tempat untuk bertahan, mereka hanya tahu menyerang dan membantai. Suwongso segera pergi dari tempat itu karena takut. Saat ia kembali ke benteng Wijaya, ia langsung menceritakan semua yang ia lihat kepada semua orang.
Wijaya pun berkata,”Suwongso, apakah kau tahu kekuatan Chen Mien?”
Lalu Suwongso pun menjawab,”Iya, Ia jauh lebih kuat dariku, karena ia hampir membunuhku dulu.”
Wijaya terdiam sebentar lalu berkata,”Apabila kerajaan Sung yang banyak terdapat orang kuat seperti Chen Mien saja dapat dikalahkan oleh orang Mongol, berarti orang Mongol benar-benar bukan orang sembarangan, itulah sebabnya Chen Mien telah memberi tahu kepada kita agar hati-hati pada rapat militer tahun lalu.”
Lalu semua perwira dan panglima menjadi takut dan sadar akan kekuatan musuh yang mereka hadapi.
*****
Dimalam harinya putri Ayu datang menjengguk panglima Chen Mien yang patah hati. Ia hanya duduk sendirian di kamarnya yang gelap dan sunyi. Kepalanya selalu tertunduk ke bawah, dan air matanya menetes setiap saat secara pelan-pelan. Ayu ikut sedih akan panglima yang setia kepada pemimpin dan kekasih ini. Ayu masuk kekamar itu dan mencoba untuk menghibur sang panglima. Namun hiburan itu tidak dapat merubah reaksi sang panglima. Ayu langsung berdiri dibelakang punggung Chen Mien yang sedang duduk dikursi dan memeluknya dari belakang.
Chen Mien kaget karena ada dua payudara padat yang menempel dipunggungnya. Kepala Ayu langsung bersender di pundak Chen Mien. Setelah agak lama kemudian kepala Chen Mien bergerak dan bersender ke pipi Ayu. Pipi Chen Mien digosok-gosokkan ke pipi Ayu yang halus itu secara berulang-ulang. Ayu pun ikut kaget, dan akhirnya ia langsung berjalan ke depan Chen Mien dan duduk di kakinya. Rok Ayu tersingkap dan terlihatlah paha seksi dan padat itu. Chen Mien langsung meraba-raba paha seksi dan kecoklatan itu di dalam kamarnya yang remang-remang. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan pintu kamar tertutup rapat. Kain jendela langsung jatuh dan sinar rembulan menerangi kamar itu.
Terlihatlah wajah Ayu yang sangat cantik dan berseri. Mata Chen Mien langsung terbuka besar. Ayu lalu memasukan jarinya ke dalam roknya, dan ia pun berdesah, ternyata ia memasukan jari-jari tangannya ke dalam vaginanya. Setelah beberapa saat tangan itu pun dikeluarkan dan penuh dengan lendir. Lalu ia mengulur tangan itu ke bibir Chen Mien. Panglima itu langsung menjilatinya secara pelan dan mengulumnya. Lalu setelah jari itu kering, Chen Mien langsung memeluk Ayu secara ganas. Ia langsung mencium dan mengulum-ngulum bibir Ayu secara liar. Lidahnya bergerak seperti cacing kepanasan didalam mulut Ayu, yang dibalas dengan tidak kalah ganasnya.
Pada saat itu Chen Mien masih duduk bersender dikursi dan Ayu duduk tepat diatas kedua kakinya, sehingga badan Ayu terdorong ke atas dan sedikit lebih tinggi dari Chen Mien. Lalu Chen Mien membuka baju Ayu dan langsung menghisap payudaranya seperti kumbang menghisap madu. Ayu langsung membuka baju Chen Mien dan celananya. Ayu pun melepaskan roknya secara perlahan-lahan sehingga terlihatlah kedua pantatnya yang padat itu secara-pelan-pelan dan bersinar karena terpantul sinar rembulan. Penis Chen Mien langsung berdiri tegak seperti pohon bambu. Ayu langsung naik dan berdiri di pegangan kursi. Kaki Ayu di pegang dan dielus secara kuat oleh Chen Mien agar ia tidak jatuh. Vagina Ayu langsung ditempelkan ke wajah Chen Mien dan kedua tangan Ayu memegang kepala Chen Mien serta mendorongnya masuk ke arah vagina secara keras. Paha Ayu pun mengapit kepala Chen Mien.
“Ah.. Ah.. Oh.. Oh..” desah Ayu kenikmatan karena vaginanya dijilat secara liar.
Lalu setelah dua puluh menit, Ayu berbalik badan dan kini lidah Chen Mien berpindah dari lobang vagina ke lobang pantat. Otot pantat yang keras itu mengapit lidah Chen Mien berulang-ulang. Setelah puas menjilati lobang pantat, Chen Mien menjilati permukaan pantat yang padat itu.
Setelah kecapekan berdiri akhirnya Ayu duduk di pangkuan Chen Mien. Vaginanya langsung ditembus penis pohon bambu itu. Paha Ayu langsung mengapit Chen Mien dan betisnya dijulurkan lurus kebelakang punggung Chen Mien karena lemas. Tangan Ayu memeluk leher Chen Mien dan payudaranya kembali dihisap secara ganas.
“Ah.. Ah.. Oh.. Oh..” desah Ayu yang makin lama makin besar.
Lalu setelah puas dadanya dikulum, Ayu langsung mencipoki Chen Mien. Setiap bercipokan beberapa saat kepala Ayu diangkat dan terlihat liur Ayu yang mengalir ke bawah dan masuk tepat ke mulut Chen Mien. Hal itu membuat Chen Mien makin bergerak liar penisnya. Tangan Chen Mien terus-terusan meraba punggung dan pundak Ayu yang sangat halus dan ketat. Setengah jam berikutnya Ayu berganti posisi dan memutar ke belakang. Putaran itu membuat penis Chen Mien terpijat keras didalam vagina Ayu.
“Arghh..” desah Chen Mien.
Lalu penis itu dicabut keluar dari vagina dan dimasukkan ke dalam pantat Ayu. Kedua tangan Chen Mien langsung meraba vagina dan payudara Ayu secara ganas. Salah satu tangan Ayu memeluk kepala Chen Mien dan tubuhnya dimiringkan sedikit kebelakang agar ia dapat mencium Chen Mien dengan gampang. Otot pantat yang begitu kuat dan padat itu memijat penis Chen Mien dengan ganasnya. Lobang pantat itu terbuka dan menutup secara beraturan dan membuat penis Chen Mien terpijat kesana kemari.
Akhirnya Chen Mien tidak dapat menahan orgasmenya dan spermanya memancur keluar seperti gunung meletus. Lubang pantat Ayu terasa hangat karena terisi oleh sperma Chen Mien. Lalu mereka berdua langsung berpelukan dan berciuman diranjang. Akhirnya mereka tidur bersama dalam pelukan hangat dan kedua tubuh telanjang yang saling menempel dan memeluk secara mesra.
Sementara itu Jendral Wijaya dikabarkan oleh mata-matanya bahwa tentara Mongol membantai dan menghancurkan lebih dari delapan kota-kota besar, dan desa. Seluruh penduduk tidak ada yang dibiarkan hidup satupun. Para wanita di tangkap dan dikirimkan ke negeri Mongol pada sorenya dengan kapal-kapal raksasa. Pada malam itu juga semua tentara Mongol mendirikan kemah tanpa alas, sehingga mereka sebenarnya tidur di rumput-rumput kecuali para jendral dan panglima yang dibekali dengan ranjang dikemahnya masing-masing.
Dikemah Meng Chi terlihatlah panglima itu membuka baju perangnya karena kecapaian. Pada saat ia membuka bajunya, dan hendak berganti baju lain, terdengarlah suara yang kecil diatas kepalanya. Lalu ia pun segera berlari dan berhasil meraih pedangnya yang diletakan diatas ranjang. Ternyata ia sadar kalau ada pembunuh di kamarnya. Lalu pembunuh itu langsung loncat ke bawah dengan bersenjata dua keris kecil. Meng Chi langsung menggunakan ilmu silatnya dan berhasil menangkis serangan pembunuh. Karena ayunan pedang itu keras maka kedua keris itu terlepas dari tangan pembunuh, Meng Chi langsung membuang senjatanya dan meraih kedua lengan pembunuh bertopeng itu serta melemparnya ke ranjang.
“Ha.. Ha.. Ha, dengan wangi harum badanmu, aku tahu kalau kamu itu wanita cantik. Mari tidur denganku, aku memang sudah lama merasa bosan.”
Lalu Meng Chi menangkap pembunuh itu dan melepaskan topengnya. Ternyata benar dugaan Meng Chi, pembunuh itu adalah seorang wanita cantik dan seksi. Pakaian wanita itu seperti Ninja dari negeri Jepang pada waktu itu. Roknya sangat mini dan terlihat kain celana dalam berwarna putih yang menutup vagina. Bulu-bulu vagina pun terlihat keluar sedikit. Meng Chi langsung menjilat celana dalam itu. Wanita itu tidak dapat berbuat apa-apa, pada saat ia hendak melawan Meng Chi mengunakan kungfu yang ia pelajari dari negeri Sung lalu menotok titik darah wanita itu sehingga wanita itu tidak dapat berteriak dan badannya menjadi lemas.
Meng Chi lalu melanjutkan proses menjilat vagina itu. Lalu dengan satu tarikan baju wanita itu langsung lepas setengah dan terlihat dua buah dada yang berukuran sedang muncul keluar dari bajunya. Meng Chi lalu menarik celana dalamnya pulanya dan mencumbuinya. Dalam keadaan bercumbu Meng CHi menjilati dada wanita itu secara ganas. Lalu kemudian ia menelanjangkan dirinya dan wanita itu, lalu kedua-duanya duduk diranjang, dan badan mereka saling berhadapan dan bertempelan. Tangan Meng Chi memeluk punggung wanita itu dan memaksa tubuh mereka berdua menempel. Penis Meng Chi yang besar terus-terusan mencumbui wanita itu. Wanita itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat mengeleng-gelengkan kepalanya dan berdesah.
Rambutnya yang tadinya diikat sekarang terbuka dan terbelai panjang. Goyangan kepalanya yang kekiri dan kekanan membuat rambutnya ikut bergoyang. Meng Chi menjadi semakin bergairah dan cumbuannya itu bertambah ganas. Ternyata wanita itu masih virgin sehingga tusukan penis panglima Mongol itu terasa nikmat dan keras. Tak lama kemudian Meng Chi orgasme dan spermanya muncrat ke dalam vagina itu. Wanita itu lemas dan jatuh kepelukan Meng Chi. Air matanya membasahi wajahnya, lalu Meng Chi menciumnya dan menjilati air mata itu. Lalu beberapa saat kemudian mereka berdua jatuh keranjang dan tidur pulas.
Dipagi harinya wanita itu diberikan kepada tentara Mongol untuk dinikmati sampai mati. Subodai lalu melakukan rapat militer di kemahnya untuk menentukan daerah korban selanjutnya, namun tiba-tiba seorang tentara datang dengan membawa sebuah surat. Surat apakah itu?
Sementara itu di perkemahan jendral Wijaya juga diadakan rapat militer. Para perwira dan panglima sangat menentang tindakan tentara Mongol yang diluar batas manusiawi. Lalu jendral Wijaya berkata,
“Namun apabila tentara itu terus melakukan serangan gila, maka tentara mereka sendiri akan cepat habis pula, dan setelah Kediri hancur, kita dapat menyerang tentara itu dengan mudah. Mereka yang sudah kecapaian dan belum siap itu akan dengan mudah kita hancurkan, lalu kita bisa memperkuat pertahanan sebelum gelombang berikutnya tiba di tanah air kita”.
Lalu semua orang juga setuju pada taktik itu. Lalu sore harinya seorang mata-mata Wijaya datang melapor bahwa tentara Mongol sekarang tidak bergerak sama sekali karena Jendral Subodai memerintah mereka untuk tidak berperang. Jendral Subodai ternyata mendapat surat dari Kublai-Khan bahwa tentara Mongol yang dikirim untuk menguasai negeri Jepang ternyata gagal karena dihancurkan oleh badai Tsunami di laut China timur. Maka untuk mempersiapkan serangan gelombang kedua ke kerajaan Hojo (Jepang dulu) maka bala bantuan yang akan dikirim ke Nusantara terpaksa ditunda. Oleh sebab itu Subodai membatalkan perangnya agar tidak kekurangan tentara saat mau digunakan nantinya.
Akankah strategi Wijaya berhasil dalam mengurangi jumlah tentara Mongol?
Pada malam rapat militer berikutnya Jendral Wijaya mengadakan misi rahasia untuk membunuh Jendral Subodai. Apabila misi itu berhasil maka tentara Mongol akan semakin liar dan membabi buta tentara Kediri, dan juga kepemimpinan atas semua tentara akan digantikan oleh Meng Chi. Panglima Meng Chi telah diketahui oleh WIjaya sejak dahulu bahwa kedatangannya kedua kali-nya ke Nusantara adalah untuk menjadi raja sendiri dan membelot kepada Khan (sebutan untuk kaisar di negeri Mongol).
Maka misi pun dijalankan. Akhirnya dipilihlah seorang wanita cantik untuk ditugaskan pada misi itu. Wanita itu pernah tinggal di negeri Hojo (nama kerajaan di Jepang pada waktu itu) selama dua tahun dan belajar ilmu ninja. Wanita itu keturunan bangsawan dari tanah Jawa. Keluarganya dibantai oleh tentara Kediri dan sekarang adalah tiba saatnya untuk membalas dendam. Wanita ninja ini tahu kalau misinya sangatlah penting dan berbahaya, karena apabila sukses, maka kerajaan Kediri ditafsirkan akan runtuh dalam waktu kurang dari sebulan. Akhirnya berangkatlah wanita itu.
Diperkemahan Mongol, pada malam yang gelap gulita, wanita ninja itu berpakaian baju ketat berwarna hitam, dan celana rok yang mini (seperti dalam kartun Jepang cewek ninja) sehingga ia dapat bergerak leluasa. Hanya dalam beberapa loncatan saja ia sudah mencapai atap kemah Subodai. Wanita itu pun turun ke kemahnya dengan mengigit sebuah pisau kecil. Terlihatlah jendral Subodai yang sedang tidur lelap. Wanita itupun melempar pisaunya dan meleset.
Subodai ternyata hanya pura-pura tidur saja. Tangannya yang kekar menangkap pergelangan kaki wanita itu dan ditarik secara kasar. Wanita itu jatuh tepat diranjang Subodai. Jendral yang sedang tidak bisa tidur itu langsung merobek baju wanita itu.
“Kyaa!!” teriak wanita itu.
Namun tidak ada orang yang bisa menolongnya. Wanita itu langsung menutup bajunya yang setengah robek itu, dan berusaha mundur. Namun ranjang yang empuk itu membuat gerakannya terhambat. Tangan Subodai langsung memegang dan menarik paha wanita itu. Lalu wanita itu langsung meronta-ronta namun kedua betisnya terjepit di kedua ketiak Subodai sehingga ia tidak bisa bergerak bebas lagi. Subodai langsung mengelus paha wanita itu sambil tersenyum sambil berdiri. Wanita yang tiduran di ranjang itu tidak bisa berbuat banyak selain meronta dan berteriak.
Elusan itu bertambah liar, dari paha, betis hingga ke celana dalam wanita itu yang berwarna putih. Akhirnya celana dalam itu dirobek, dan kepala Subodai langsung terjun bebas dan mendarat di vagina wanita itu. Lidah dan bibir Subodai langsung mencium, menjilat, dan menghisap vagina wanita itu. Kedua paha wanita itu di apit sehingga tidak bisa bergerak banyak. Setelah puas menjilat Subodai langsung kembali berdiri tegak dan merobek pakaian wanita itu sampai ludes. Wanita itu kembali meronta-ronta dan berteriak,
“Tolong, jangan, lepaskan aku”.
Subodai menjawab, “Kau akan kulepaskan setelah aku puas menikmatimu”.
Setelah wanita itu dibuat telanjang, Subodai langsung melepaskan kedua paha wanita itu, dan menelanjangkan dirinya. Wanita itu semakin ketakutan dan bergeser sampai ujung ranjang yang menempel ke dinding sambil menutup kedua dadanya yang montok dengan tangan. Wanita itu tidak bisa kabur karena pahanya sakit setelah dikunci sekian lama oleh sang jendral Mongol. Subodai langsung naik ke ranjang dan mencoba untuk membuka kedua kaki wanita yang disilangkan itu. Wanita itu berteriak sambil mengelengkan kepala secara keras sebagai tanda ketidak setujuannya atas tubuhnya untuk dinikmati, namun Subodai langsung membuka mulutnya yang besar dan menempelkannya ke mulut wanita yang kecil itu.
Wanita itu dipaksa berciuman. Lidah wanita itu di aduk-aduk oleh lidah Subodai. Terlihat isak tangis wanita malang itu. Mau membunuh malah diperkosa. Subodai lalu membalikkan badan wanita itu dan menarik ke dua pahanya untuk dijepit dikepalanya. Lalu lubang pantat wanita itu dijilati sampai puas. Kedua betis wanita itu disilangkan di belakang kepala Subodai. Ia sendiri mengambil posisi duduk diranjang, dan wanita itu tengkurap sambil menangis. Air matanya membasahi bantal Subodai.
Setelah lama menjilat akhirnya Subodai langsung mencumbui pantat wanita itu. Ternyata wanita itu belum pernah dicumbui lewat pantat sehingga lubang pantatnya masih kecil, dan pantatnya padat berisi. Subodai langsung mengambil posisi push-up dan mencumbui pantat wanita kecil itu secara ganas. Wanita itu langsung berteriak kesakitan dan menangis keras. Kedua tangan Subodai berada disamping kiri dan kanan wanita itu. Karena kesakitan dan tidak dapat kabur, wanita itu meronta-ronta dan tangannya berusaha menarik kasur ranjang dan bantal dan berusaha kabur. Rontaan itu membuat penis Subodai makin terpijit dan ia sendiri makin terangsang sehingga goyangannya bertambah keras.
Wanita itu lalu lemas dan tangannya hanya bisa memegang kedua lengan Subodai yang berotot. Akhirnya setelah agak lama Subodai lalu membalikkan tubuh seksi wanita itu dan memeluknya. Sekarang posisi Subodai duduk diranjang dan wanita itu duduk di kaki Subodai dan menghadap ke Subodai. Penis Subodai langsung ditancapkan ke vagina wanita itu yang masih virgin. Mata wanita itu langsung terbuka dan ia kembali meronta-ronta. Tangannya berusaha mendorong dada Subodai, namun tangan Subodai lebih kuat dan berhasil memeluk tubuh wanita itu. Wanita itu akhirnya lemas dan dipaksa bercumbu. Kedua paha wanita itu mengapit perut Subodai dan dielus-elus. Wajah wanita itu lemas dan terbaring diatas wajah Subodai. Air matanya menetes ke pipi Subodai. Jendral itu lalu menjilat air mata itu dan kembali berciuman.
Setelah itu Subodai mencapai tahap orgasme dan spermanya mengucur dalam vagina wanita itu yang hangat. Wanita itu lalu terbaring lemas dan berkata dalam isak tangisnya,
“Maafkan aku baginda. Aku tidak dapat menjalankan misi ini. Maafkan aku rakyat Kediri.”
Lalu wanita itu menggigit lidahnya sendiri dan mati. Perkataan itu sengaja dilakukan oleh wanita itu untuk mengadu domba tentara Mongol dan kerajaan Kediri. Subodai akhirnya masuk perangkap dan percaya perkataan wanita yang baru meninggal itu. Ternyata walaupun wanita itu tidak berhasil membunuh Subodai, namun ia berhasil mengadu domba Subodai dan Kediri.
Dipagi harinya Subodai mengadakan rapat militer, namun dipertengahan rapat itu seorang tentara melapor bahwa ada seorang panglima kediri bernama Arjuna dan Wiguna menantang perang dengan sepuluh ribu tentara. Subodai lalu berkuda keluar dari perkemahannya diikuti oleh para perwiranya dan ribuan tentara.
“Aku akan membalaskan dendamku atas kematian ayahku Jendral Sanjaya” teriak panglima Arjuna.
Subodai lalu menantangnya duel satu lawan satu. Duel itu diterima karena Subodai adalah pembunuh ayahnya. Arjuna lalu menyerang Subodai dengan ganas. Subodai sendiri kaget akan kekuatan panglima itu. Lalu akhirnya setelah setengah hari berduel ia-pun berkata,
“Sayang sekali, panglima kuat ini tidak bisa kutarik menjadi tentara perangku”.
Lalu ia mengayunkan parangnya secara keras dan memenggal kepala kuda Arjuna. Semua orang kaget akan kekuatan Subodai.
“Mengapa bisa demikian? Siapakah kau sebenarnya,” tanya Arjuna.
Subodai menjawab, “Ayahmu saja bisa ku penggal, apalagi kamu ini.”
Lalu parang itu diayunkan dan membelah tubuh Arjuna menjadi dua. Panglima Wiguna lalu memimpin tentaranya yang sudah ketakutan itu untuk kabur. Para tentara Mongol yang melihat tentara musuh kabur langsung mengejar tanpa diperintah bagaikan rombongan serigala yang mengejar mangsa ketakutan. Kuda-kuda berlari kencang dan puluhan ribu tentara itu dibantai secara kejam. Wiguna sendiri berhasil kabur sampai ke ibukota kerajaan Kediri.
Pada keesokan harinya panglima Chen Mien ditugaskan untuk memimpin ratusan tentara Mongol bersama Meng Chi untuk merebut desa Pecinan. Chen Mien ditugaskan untuk melakukan negoisasi terhadap kepala kampung itu yang dipimpin oleh Huang Man. Kepala kampung ini pernah menolong Jendral Sanjaya yang keracunan, serta berjuang bersama Arjuna dalam membunuh dukun jahat yang dipanggil datuk racun itu. Maka secara langsung Huang Man menolak berkerja sama dengan Wijaya maupun tentara Mongol.
“Dasar pengecut Wijaya yang hanya bisa mengunakan tentara Mongol untuk membunuh musuhnya. Aku tidak sudi bekerja sama dengannya”.
Meng Chi menjadi marah dan berkuda untuk berduel dengannya. Setelah lama berduel ternyata Huang Man ini sangatlah kuat, sehingga Meng Chi kalah dan kabur kembali ke barisan tentaranya. Chen Mien pun ikut berduel dan kudanya mati tertusuk tombak. Meng Chi menolak kabur dan dengan tanpa kuda ia melanjutkan duel. Tak lama kemudian ia berhasil melempar tombaknya dan mengenai mata kuda itu. Huang Man jatuh dari kuda dan menlanjutkan duel dengan menggunakan goloknya. Duel itu berlangsung seru.
Satu jam kemudian kedua pedang dan golok dari masing-masing pihak terlepas dari tangan sehingga mereka bergulat ditanah hingga sore. Akhirnya karena kedua-duanya kelelahan maka mereka menganggap duel itu seri. Chen Mien dan Huang Man kembali ke posisi masing-masing. Pada pagi harinya duel pun akan dilanjutkan, Huang Man dengan berbekal parang besar, berdiri di depan pintu gerbang desa. Tapi Meng Chi tidak mau menunda perang lebih lama lagi, maka ia memerintah puluhan pasukan pemanahnya untuk bersiap menyerang.
“Hentikan, duelku belum habis,” teriak Chen Mien, namun ia diabaikan oleh Meng Chi.
Akhirnya perintah tembak pun dilepaskan dan Huang Man berteriak,
“Kerajaan Kediri tidak akan pernah menyerah!!!”
Dan ia pun tertembak puluhan panah. Huang Man gugur dalam keadaan posisi berdiri dengan parang besarnya. Matanya masih terbuka dan melihat ke arah Meng Chi. Setelah itu Chen Mien memerintah agar tentara Mongol tidak melakukan hal bodoh kepada desa itu. Akhirnya seorang kakek tua berjalan keluar dari desa dan mengatakan bahwa desa Pecinan sekarang berada ditangan Wijaya dan Mongol, sedangkan ia sendiri adalah kepala desa baru. Maka Meng Chi pun memerintah tentaranya untuk kembali ke perkemahan.
Beberapa minggu kemudian seluruh tanah Jawa diselimuti oleh udara panas akibat musim kemarau. Putri Ayu datang ke perkemahan Mongol untuk menjengguk Subodai. Pada malam itu didalam kemah Subodai terasa panas sekali. Setelah lama berbincang-bincang antara kedua sang kekasih maka mereka pun berkeringatan. Keringat sang putri membuat bajunya basah dan terlihatlah jiplakan kedua payudaranya yang padat. Pantat Ayu pun sudah basah, serta jiplakan pantat seksinya pun terlihat. Akhirnya Suboda berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Ayu. Ia lalu membuka baju Ayu dan menariknya ke ranjang.
“Ah Mas ini, sudah panas begini malah diajak bercinta”.
Subodai hanya tersenyum dan menelanjangkan dirinya dan Ayu. Subodai langsung naik keranjang dan mereka berdua mengambil posisi 69. Vagina dan pantat Ayu diperas dan dijilat. Penis Subodai yang berdiri tegak itu dihisap dan digigit secara ganas oleh Ayu. Setelah agak lama mereka mengambil posisi duduk dan saling berhadapan serta saling memeluk. Vagina Ayu langsung ditusuk tanpa bertanya-tanya lagi. Keringat mereka berdua saling bercampur dan menetes ke tubuh lawan. Badan mereka menempel secara erat karena keringat itu. Ayu dan Subodai semakin ganas karena bau keringat itu membuat mereka berdua makin terangsang.
“Uh.. Uh.. Ah.. lagi, lagi” desah Ayu.
Mereka pun saling berciuman dan berjilatan. Ayu menjilat dada Subodai, Subodai pun menjilat payudara dan leher Ayu. Kemudian mereka berciuman kembali Setelah agak lama Subodai mencapai tahap orgasme dan spermanya memuncrat bagai air deras. Lalu ia pun jatuh berbaring diranjang. Ayu sendiri yang masih belum puas langsung mengambil posisi duduk dan melanjutkan cumbuannya.
“Aku tahu kalau kamu suka,” katanya lalu bercumbu berulang-ulang.
Penis Subodai dimasukan ke pantat Ayu yang padat, Ayu sendiri duduk membelakangi Subodai dan bergoyang secara ganas seperti kesurupan. Mereka berdua berteriak dan berdesah kenikmatan.
“Kamu suka kan sayang?” tanya Ayu secara berulang-ulang.
Kedua biji Subodai dimain-mainkan oleh tangan Ayu. Subodai makin terangsang dan akhirnya berorgasme untuk kedua kalinya. Penis Subodai kemudian dikeluarkan dan dimasukkan ke vagina Ayu.
“Sekarang jurus terakhir dariku,” kata Ayu.
Pinggul Ayu digoyangkan maju-mundur, atas-bawah, dan lalu mengadakan goyangan 360 derajat. Subodai sudah sangat kelelahan dan penisnya sakit, maka ia hendak membatalkannya. Namun AYu tidak mau melepaskan penisnya, namun ia malah mencengkram kedua telapak tangan Subodai. Sang jendral tidak dapat menghentikan kekasihnya yang ganas. Keringat Ayu bercucuran menetes ke seluruh tubuh Subodai. Penis Subodai yang setelah lama terkocok didalam vagina hangat itu langsung meledak dan memuncrat sperma ketiga kalinya.
Badan Subodai langsung lemas tak bertenaga, lalu tiba-tiba tangan Ayu dimasukkan ke ranjang dan saat dikeluarkan tangannya membawa keris. Subodai kaget namun ia tidak bisa melawan. Keris itu ditusukkan ke dada Subodai berkali-kali hingga mati. Ternyata sebelum melakukan seks Ayu sudah minum jamu penguat dari gunung Bromo sehingga ia bisa tahan lama tidak berorgasme. Setelah Subodai mati, Ayu menggunakan kerisnya untuk merobek kain kemah Subodai dibagian belakang. Setelah itu ia langsung menghembus napas panjang-panjang dan menusukkan keris itu ke perutnya sendiri.
Ia lalu berteriak minta tolong. Beberapa saat kemudian para tentara masuk dan menemukan jendralnya mati, dan Ayu dalam keadaan sekarat karena perutnya tertusuk keris. Ayu lalu menunjuk ke arah tenda yang robek itu. Para tentara Mongol mengira ada pembunuh kabur lewat situ, lalu mengejar kesana. Ayu lalu menghembus napas terakhir.
Hal ini langsung tersebar luas bahwa putri Wijaya mati bersama kekasihnya. Jendral Wijaya sendiri langsung menangis keras. Ia sendiri tidak tahu kalau putrinya berbuat akan demikian. Saat Wijaya menemukan surat Ayu, semua sudah terlambat. Didalam suratnya Ayu menuliskan bahwa kesedihannya karena ayahnya tidak bisa tidur nyenyak setiap malam yang dikarenakan Subodai enggan menggerakkan tentaranya.
Bagaimanakah nasib tentara Mongolia selanjutnya setelah kehilangan pemimpinnya?
Akankah mereka balas dendam, atau mungkinkah mereka akan mundur kembali ke daratan utara?
*****
Beberapa bulan setelah kerajaan Majapahit didirikan, bahaya besar pun datang. Lima belas ribu tentara yang dipimpin oleh Meng Chi datang dengan ganasnya. Chen Mien sendiri mempunyai ide aneh yang bisa menghancurkan serangan itu dalam semalam.
Akhirnya perang pun dimulai. Seratus ribu tentara dipimpin oleh Raja Wijaya sendiri berperang dengan gagahnya, namun banyak yang terbunuh karena tentara Mongol sangat ganas dan kuat. Raja Wijaya langsung kabur ke dalam hutan setelah semua tentaranya tercerai belai. Meng Chi langsung memimpin seluruh tentaranya untuk menyerang ke dalam hutan. Karena tentara Wijaya tersisa sedikit maka dalam sekejap mereka semua menghilang didalam hutan. Pasukan Meng Chi semua masuk hingga ke tengah hutan dan tersesat. Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Ternyata bubuk meriam yang dibawa Meng Chi dibakar. Seluruh hutan terbakar dan pasukan Mongol kocar-kacir. Meng Chi terpaksa harus masuk ke bagian hutan lebih dalam lagi.
Dimalam yang gelap gulita ratusan anak panah beracun dilepaskan oleh tentara Majapahit dan membunuh ratusan tentara Mongol. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, semakin mereka tercerai berai didalam hutan, semakin parah kerusakan dalam tentara yang mereka alami. Banyak tentara yang mati terkena ranjau seperti bambu tajam yang tersembunyi didalam tanah, atau kayu besar berduri yang jatuh dari atas phon besar. Meng Chi akhirnya memerintah semua tentara untuk bergabung kembali dan kabur.
Beberapa jam kemudian mereka menemui rawa-rawa, dan dipenuhi buaya. Ratusan tentara kembali terbunuh di sana. Meng Chi sendiri kehilangan lengan kirinya. Lalu ia kabur bersama ribuan tentara yang tersisa. Ia tidak bisa beristirahat, karena sistem perang tentara Majapahit adalah perang gerilya seperti yang diajukan oleh jendral Chen Mien. Panglima raksasa Mao Ton berhasil menyelamatkan Meng Chi ketika sebuah kayu besar melayang jatuh. Mao Ton menahannya dan melemparnya ke arah pasukan gerilya.
“Ayo lari!!” teriak Mao Ton dengan keras, lalu Meng Chi segera lari pergi.
Mao Ton menahan serangan tentara Majapahit agar Meng Chi dapat kabur lebih jauh. Puluhan tentara Majapahit melepaskan panah beracun, namun itu tidak cukup untuk membunuh panglima raksasa itu. Ia mencabut sebuah pohon didekatnya dan menghajar pasukan Majapahit dengan sadisnya. Tiba-tiba sebuah anak panah melayang menembus matanya. Ia lalu berteriak keras. Tiba-tiba terlihatlah Suwongso di depannya. Mao Ton lalu mencabut keluar anak panah itu dan memakan matanya sendiri. Ia lalu berteriak keras dan memukulkan pohon yang ia cabut ke tanah. Tanah langsung bergoncang dan pohon itu hancur berantakan.
Walaupun badan Suwongso besar namun ia sendiri bergetar ketika menghadapi monster itu. Mao Ton mengeluarkan rantai bola raksasanya dan diayukan secara gila. Namun anak panah yang mengenai mata kananya itu beracun sehingga mata kirinya menjadi buram. Ia tidak dapat melihat kecuali mengayunkan senjatanya secara membabi buta dan gila. Puluhan pohon hancur dan tanah menjadi bolong. Tiba-tiba rantai yang diayunkan itu tersangkut dari antara dua pohon raksasa. Melihat hal itu Suwongso mengambil kapak besar dan memenggal kepala panglima raksasa itu. Mao Ton pada saat itu tidak dapat melihat apa-apa kecuali sebuah bayangan besar menghampirinya. Namun hal itu sudah terlambat. Kepala Mao Ton lepas dari tubuhnya dan Suwongso menjambak rambut itu dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Seluruh tentara Majapahit didaerah itu bersorak gembira.
Akhirnya hal itu berlangsung hingga pagi. Meng Chi akhirnya berhasil menemukan jalan keluar dari hutan dan menemui tanah tandus dan berbatu. Dari jauh terlihat beberapa tentara dan ada bendera tanda Raja Wijaya ada dalam barisan itu. Meng Chi bersama ratusan tentara langsung menyerang membabi buta.
“Ha.. Ha.. Wijaya tidak mengira saya bisa keluar dari hutan, dan tidak mempersiapkan tentara disini. Kini matilah kalian” teriak Meng Chi.
Setelah sampai disana ternyata tentara itu adalah tumpukan jerami yang dianyam berbentuk manusia dan diberi baju perang. Ternyata pada pagi itu kabut dan embun membuat Meng Chi tidak bisa melihat jelas dari jauh, maka ia akhirnya masuk perangkap. Tiba-tiba muncullah kabut racun disekitar daerah itu. Para tentara Mongol mengalami kesusahan dalam melarikan diri karena tanah tandus dan berbatu itu, ditambah dengan kelelahan mereka karena telah bertempur semalaman tanpa henti. Akhirnya Meng Chi dan ratusan tentara Mongol mati dalam kabut itu. Dengan kekalahan tentara Mongol menandakan kekuatan kerajaan Majapahit. Raja Wijaya telah berhasil mempersatukan tanah Jawa dan diberi gelar Raden, sehingga semua orang memanggilnya Raden Wijaya. Pada malam itu juga Raden Wijaya mengadakan perjamuan untuk memperingati hari bersatunya kerajaan di Nusantara.
Sebelum pesta itu berlangsung Sinta datang menemui Chen Mien. Begitu mereka bertemu Sinta langsung lari kepelukan Chen Mien dan menangis keras. Tangisan itu adalah tangisan bahagia karena satria idamannya menyelamatkan Nusantara dari bahaya, dan ia sendiri selamat dari tangan Mongol. Tangisan itu didiamkan oleh Chen Mien dengan kecupan mesra dimata Sinta. Kemudian Chen Mien mulai mengelus-elus paha dan pantat Sinta. Putri itu lalu tersenyum dan tertawa.
“Iihh.. Jendral genit,” kemudian ia melanjutkan,”Tapi aku tahu yang kamu mau”
Lalu Sinta membuka bajunya hingga setengah sehingga kedua payudaranya terlihat setengah. Kepala Chen Mien langsung masuk menempel ke buah dada itu, dan menjilatinya. Ia juga memegang serta menjilati pundak dan leher Sinta.
“Uh.. Uh..” erangan Sinta karena merasa nikmat, dan tangannya memeluk kepala Chen Mien.
Hal itu dilakukan selama dua puluh menit dan Chen Mien merasa sangat terangsang, maka ia mendorong tubuh Sinta dan menempel didinding. Penis Chen Mien berulang kali digosok-gosokan ke vagina Sinta, payudara Sinta yang menekan ke dada Chen Mien membuatnya merasa makin hangat. Kaki Chen Mien pun digesek-gesekan ke paha Sinta. Tak lama kemudian tangan kanan Chen Mien mengelus serta mengangkat paha kiri Sinta. Elusan itu ke bagian terhalus dari paha yaitu bagian belakang paha. Lalu baju Sinta dibuka semua. Sintapun membuka semua pakaian Chen Mien. Sekarang mereka berdua sudah dalam keadaan telanjang, saling menempel dan terdorong ke dinding. Kedua kaki Sinta disilangkan di pantat Chen Mien, dan tubuhnya terangkat ke udara. Namun karena badan Sinta menempel didinding dengan keras, maka Chen Mien dapat menahannya diatas dengan mudah. Lalu penis langsung dimasukan ke dalam vagina dan proses percintaan pun dilanjutkan. Badan Sinta terdorong ke atas dan kebawah.
Tak lama kemudian Chen Mien merasa capek sehingga kedua lututnya di bengkokkan kedepan sedikit. Kaki Sinta pun terjulur kebawah dan badannya tidak lagi menempel didinding. Ia seperti duduk dipaha Chen Mien yang setengah berdiri. Chen Mien memeluknya dan menghisap dadanya. Tangan Sinta mengacak-acak rambut Chen Mien. Tak lama kemudian Chen Mien sudah kuat kembali dan ia kini mengendong serta mencumbui Sinta dalam waktu bersamaan. Kedua tangannya menahan pantat Sinta. Mereka lalu berciuman dan Sinta mengelus wajah Chen dengan halus. Setelah lama beradu lidah dan berciuman, mulut Sinta pun diangkat dan terlihat liurnya yang mengalir ke dalam mulut Chen Mien.
“Ah.. Ah..” desah Sinta.
Tak lama kemudian mereka berdua mencapai tahap orgasme sehingga sperma dan ovum saling bermuncratan. Badan mereka berdua bergetar sebentar. Kemudian Chen Mien berkata,
“Sinta sayang. Ayo turun dong, aku sudah capek mengendong kamu”.
Sinta menjawab, “Aku sudah lemas. Takut ah terlalu tinggi.”
Chen Mien sudah sangat capek dan hampir jatuh, “Ah nanti kamu jatuh nih”.
Sinta langsung mengesekan pahanya ke pinggul Chen agar ia tidak jatuh sambil berkata, “Ah takut, jangan biarkan aku jatuh dong”.
Penis Chen masih menempel di vagina Sinta. Tak lama kemudian Chen Mien kehabisan tenaga dan berkata, “Aku jatuh nih… Ahh…” kemudian ia jatuh kebelakang sambil memeluk Sinta.
Kemudian mereka berdua tertidur dilantai. Pesta itu menjadi terhambat karena sang Jendral masih beristirahat. Banyak tamu yang hadir berkata, “Wah, pasti ia berjuang dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan Nusantara ini”.
Dalam pesta itu Suwongso juga belum hadir. Banyak orang yang mengatakan bahwa pertempurannya dalam menghadapi raksasa Mongol Mao Ton terjadi seru, sehingga Suwongso juga butuh istirahat yang panjang. Ternyata Suwongso sedang berada di kamar mandi. Ia sedang mandi air hangat bersama dua wanita cantik. Didalam air hangat penis Suwongso yang sudah berdiri itu dikocok terus-terusan oleh seorang wanita dengan kedua tangannya. Wanita yang kedua sedang mengapit pahanya ke kepala Suwongso, dan vaginanya sedang dijilat.
Lalu setelah lama mengocok penis itu, kedua wanita itu menyabuni badan mereka sendiri lalu menempelkan badan mereka ke Suwongso. Wanita pertama dadanya menempel dan membersihkan daki Suwongso, sedangkan wanita kedua membersihkan penis Suwongso dengan mengapitnya dengan payudaranya. Tangan kiri Suwongso meraba pantat wanita yang diatas, sedangkan tangan kanannya meraba pundak wanita yang dibawah. Penis Suwongso kemudian memuncratkan sperma kewanita yang dibawah. Setelah dada dan perut Suwongso bersih, kini kedua wanita tiduran dan dengan paha mereka, mereka membersihkan kedua kaki Suwongso dengan cara menggosokannya. Jari kaki wanita itu menyentuh dan mengocok penis Suwongso.
Setelah kaki Suwongso bersih, kini wanita pertama menyabuni diri lagi dan bergerak kebelakang Suwongso, lalu membersihkan punggungnya dengan cara mengosokan punggungnya dengan punggung dan payudaranya, sedangkan wanita ke dua membersihkan kepala Suwongso dengan cara menyabuni bulu vaginanya dan mengosok-gosok ke rambut Suwongso. Lalu wanita itu juga membersihkan leher dan dagu Suwongso dengan pantatnya. Setelah punggung dan kepala Suwongso bersih, kedua wanita itu menyabuni pipi mereka dan kemudian membersihkan muka Suwongso dengan kedua pipi mereka. Pipi yang halus itu membersihkan wajah Suwongso dengan pelan. Salah seorang wanita tidak sengaja jatuh karena licin dan vaginanya tertusuk penis.
Suwongso langsung mencapai tahap orgasme dan spermanya memuncrat keluar untuk kedua kalinya. Kedua wanita itu langsung berebutan menghisap penis itu berulang-ulang, Suwongso sudah sangat lemas dan entah sudah berapa kali ia mengalami orgasme saat itu juga. Ia mencoba untuk mengusir kedua wanita itu namun wanita itu tidak mau pergi dan terus menghisap. Suwongso berkata, “Dari mana perwira bodohku menemukan kedua wanita ini. Ah sudahlah biarkan saja apa yang terjadi, terjadilah”.
Beberapa saat kemudian badannya sudah bersih dan menghadiri pesta itu. Para tamu kebinggungan karena seluruh badan Suwongso, bersih dan licin tak seperti biasanya. Jendral Chen Mien pun hadir pada saat yang bersamaan. Banyak tamu yang kagum dengan kedua jendral besar ini karena merekalah yang berhasil mempertahankan negeri Nusantara. Chen Mien orang keturunan darah Hokien dari China, jendral sekaligus tangan kanan Raden Wijaya, dan Suwongso orang Jawa, jendral sekaligus tangan kiri Raden Wijaya, keduanya mendapat penghargaan besar dari Raden Wijaya.
Beberapa jam berikutnya pesta pun dimulai, banyak orang hadir dan mendengar pidato Raden Wijaya. Dalam pidatonya Raden Wijaya merasa bangga dapat membangun kerajaan Majapahit dan mempertahankannya sebagai kerajaan terkuat di Nusantara. Raden Wijaya juga berpidato tentang hal hal yang akan ia lakukan dimasa depan untuk memakmurkan seluruh rakyat Nusantara. Raden Wijaya berkata bahwa nama kerajaan Majapahit akan dikenal selama-lamanya oleh anak cucu dimasa depan. Setelah pidato itu para rakyat, bangsawan, jendral, panglima, dan perwira semua menangis terharu karena perang sudah usai, dimana saudara yang terpisah jauh dapat bertemu kembali dalam masa damai itu.
Bahasa Sansekerta digunakan sebagai bahasa persatuan di seluruh Nusantara. Sampai sekarang nama Majapahit masih ada dalam ingatan kita semua. Dunia sudah berputar selama lebih dari delapan ratus tahun, namun sampai sekarang kita masih saja ingat dengan nama negeri yang dibangun oleh nenek moyang kita.
Walaupun benteng istana sudah tidak ada lagi. Kota-kota penuh gedung. Rakyat memakai baju barat, dan semua bergaya barat, namun warisan yang diberikan oleh nenek moyang kita tidak akan pernah hilang dari hati kita. Perkataan Raden Wijaya benar bahwa anak cucu Nusantara akan mengingat kejadian bersejarah ini sampai selama-lamanya, namun dalam perkataan itu ada salahnya juga. Nama Majapahit tidak hanya dikenal oleh anak-anak Nusantara saja, namun seluruh dunia dari timur hingga barat sampai sekarang juga masih mengenalnya. Sejarah dunia mencatat bahwa kerajaan Majapahit adalah satu-satunya kerajaan yang berhasil menangkal serangan dari tentara terkuat di seluruh dunia, yaitu tentara Mongol. Walaupun kerajaan Mongol berhasil menguasai seluruh benua asia, dan setengah dari benua eropa, namun justru dijaman keemasannya itu tentaranya dihancurkan oleh kerajaan Majapahit. Kita sebagai anak cucu Nusantara patut merasa bangga. Jasa nenek moyang dalam membangun negeri ini akan dikenang hingga akhir jaman.
No comments yet.
-
Recent
-
Links
-
Archives
- November 2007 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS